Skip to main content

Pengalaman dan Perasaan Saya Dalam Mengajar Online Selama Wabah Corona

Beberapa hari yang lalu saya baru saja mengkoreksi nilai UTS secara online dari Google Classroom dan ternyata sangat melelahkan. Jika biasanya kalau saya mengkoreksi offline bisa memakan waktu 1-2 jam, untuk online ini saya membutuhkan waktu sekitar 4-5 jam untuk 45 mahasiswa, belum lagi mahasiswa yang mengirimkan tugas dengan format landscape bukan potrait yang makin memperlambat prosesnya. Anyway, kali ini saya akan menuliskan pengalaman saya sebelum UTS dalam menjalani kelas online.


Hal pertama yang akan saya bahas adalah website apa yang saya gunakan untuk mengelola kelas? Website/aplikasi pertama yang saya gunakan adalah Google Classroom karena memang sebelum ada wabah ini saya sudah menggunakan aplikasi ini untuk membagikan material dan mengumpulkan tugas secara online seperti tugas Fisika Komputasi yang memang lebih baik dikumpulkan secara online. Jadi, ketika wabah Corona melanda dan harus belajar secara online saya sudah punya platform yang sudah beranggotakan mahasiswa. Keuntungan menggunakan Google Classroom adalah interface-nya yang sederhana sehingga mudah digunakan, baik oleh mahasiswa maupun guru dan integrasinya dengan komponen Google yang lain seperti Google Drive sehingga hasil kelas dapat diarsipkan. Namun demikian, jika ingin menggunakannya sebagai sarana diskusi, saya tidak bisa me-mention seperti layaknya di Whatssap sehingga untuk diskusi kelas saya lebih memilih menggunakan Whatssap saat itu (mungkin kedepannya saya juga akan pakai Google Classroom saja).

Tampilan dari Google Classroom, sederhana saja

Website kedua yang saya pakai adalah Schoology, dimana Schoology menyediakan fitur-fitur yang lebih lengkap dibandingkan dengan Google Classroom seperti adanya fitur Attendance, dll. Namun, karena Schoology hanya tersedia dalam Bahasa Inggris, mahasiswa saya banyak yang bingung, bahkan sebelum UTS mereka lebih stress akibat memikirkan cara upload jawaban dibandingkan dengan materi pelajaran itu sendiri. Sepertinya kedepannya saya akan menganalisis mana yang lebih gampang dalam mengkoreksi hasil jawaban mahasiswa, Google Classroom kah atau Schoology kah?

Fitur Pada Schoology lebih banyak

Nah, ketika banyak orang pakai Zoom untuk tatap muka langsung, saya pun tertarik memakainya dan hasilnya memang sangat bagus karena layar kita bisa di-share ke pengguna lain sehingga memudahkan presentasi, bisa memberikan tanda coret-coret juga pada layar dan bisa direkam. Saya pakai Zoom untuk mengajar kelas yang bersifat privat. Hanya saja, ternyata Zoom itu ternyata tidak dienkripsi (pantas saja terasa sangat ringan) sehingga agak berbahaya bagi kesehatan laptop dan data kita (Hal ini menjadi bahan pembicaraan sekarang). Kalau kamu ingin melihat seperti apa hasil recording dari Zoom, kamu bisa lihat di video teman saya di sini.   

Memangnya USU tidak mempunyai platform e-learning? Ada, tetapi karena masih baru aktif 100% kala wabah Corona melanda, akun saya belum terbentuk dan saya harus daftar lagi, mungkin di kemudian hari saya juga akan gunakan jika sudah terdaftar. Karena teman saya yang sudah mencobanya sangat merekomendasikan untuk memakai e-learning dari USU saja. 

Untuk kelasnya sendiri, saya membuat video pembelajaran terlebih dahulu menggunakan rekaman presentasi dengan software Camtasia, software ini sangat saya rekomendasikan karena interfacenya yang user friendly, lalu kemampuannya dalam mengkompres video dengan kualitas yang tetap bagus. Bahkan menurut pengalaman adik saya, Camtasia mengkompress video dengan lebih baik dibandingkan Filmora. Lalu video saya upload di Youtube dan didiskusikan di kelas Whatssap Grup

Bagaimana perasaan saya selama mengajar online? Ternyata lebih capek karena membuat video pembelajaran itu cukup memakan waktu dan karena dikusinya tidak tatap muka langsung jadi berjalan agak lama. Saya memilih mengajar offline atau tatap muka langsung.

Bagaimana dengan perasaan mahasiswa? Meskipun saya sudah membuat video, mereka mengaku lebih paham kalau tatap muka langsung, apalagi untuk pelajaran berhitung karena kalau tatap muka langsung kami berinteraksi dengan intens dan sama-sama berpikir dalam menyelesaikan suatu soal, sedangkan kalau video mereka hanya mendengar dan melihat saja. Namun, ternyata banyak mahasiswa yang justru lebih aktif ketika diskusi melalui Wa dibandingkan melalui tatap muka langsung, mungkin karena mereka tidak perlu bersuara dan menunjukkan wajah, hanya mengetik saja. 

Apakah ada kejadian lucu ketika diskusi di Grup Online? Banyak dan saya perhatikan mahasiswa cenderung lebih terbuka dan saya pun cenderung untuk lebih santai, tidak terlalu formal dalam menggunakan kata-kata. Jadi, teman saya menyimpulkan bahwa kemungkinan banyak mahasiswa di kelas saya yang introver (termasuk saya yang juga introver). 

Demikian pengalaman saya sejauh ini dalam mengajar online beserta software-software/website yang saya pergunakan. Berikutnya saya akan menuliskan pengalaman menggunakan Pen Tablet.

Comments