Skip to main content

Posts

Showing posts from April, 2016

Benar-Benar Percaya-kah Kita? (Tips Agar Hidup Lebih Bahagia)

Tulisan ini adalah sebuah refleksi dari buku "Hujan Matahari" karangan Kurniawan Gunadi yang sudah kuulas di artikel sebelumnya . Awalnya aku mempersiapkan tulisan ini untuk bahan kuliah tujuh menit (kultum) pada sebuah diskusi kecil dengan temanku. Lalu, terpikirkan olehku untuk juga menuliskannya di sini karena isinya yang sarat makna dan dapat menyemangati jiwa agar hidup lebih bahagia. Beautiful quote Artikel ringan Kurniawan Gunadi itu membahas tentang sikap percaya dan mempercayai yang selama ini kita jalani. Banyak dari kita yang sudah mengaku dan mempublikasikan kepada khalayak ramai bahwa kita adalah seorang yang percaya kepada Allah, tetapi benarkah demikian adanya? Mungkin benar kita telah percaya kepada Allah, tetapi mungkin dalam sikap kita, kita belum benar-benar menunjukkan bahwa kita mempercayai-Nya. Itu terlihat dalam sikap kita yang selalu khawatir akan masa depan hingga kita tidak hidup nyaman di masa sekarang. Hal yang dicontohkan Kurniawan

Menikmati Manis dari Kopinya “Filosofi Kopi”

Oleh: Siti Utari Rahayu Kesukaanku untuk membaca buku muncul kembali ketika berdiskusi dengan teman sekampusku yang berasal dari Vietnam. Dia mengatakan bahwa dengan membaca buku, buah pemikiran kita akan berubah tanpa kita sadari, walaupun terkadang kita lupa beberapa hal penting yang terdapat dalam buku itu. Aku pun tersadar, selama berada di Taiwan, aku memang jadi jarang membaca buku, terutama buku sastra Indonesia akibat ketidaktersediaan buku tersebut. Namun, aku pun mulai membaca buku-buku sastra yang berbahasa Inggris yang dapat kupinjam di perpustakaan sekolah. Sampai akhirnya temanku dari universitas lain meminjamkanku buku-buku karangan Dee Lestari, yaitu Filosofi Kopi dan Gelombang. Temanku ini adalah salah satu penggemar karya-karya Dee Lestari. Aku, yang tak pernah membaca buku karangan Dee Lestari pun dengan semangat membaca dan mencoba mengahayati makna-makna yang tersirat pada berbagai karya-karya nya. Pada buku Filosofi Kopi, aku dapat merasakan kenyama

Menyegarkan Diri dengan “Hujan Matahari”

Oleh: Siti Utari Rahayu              Nothing is coincidence, mungkin kalimat itulah yang dapat mewakili apa yang kualami. Aku dapat menikmati karya yang bagus dari seorang Kurniawan Gunadi karena temanku secara tidak sengaja meninggalkan buku berjudul “Hujan Matahari” di Taiwan, hingga dia menitipkannya padaku. Dan memang tak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan, buku ini nyatanya banyak memberikan pemikiran-pemikiran segar bagiku yang selalu dijejali dengan eksperimen berbau kimia. Apalagi di saat aku merasakan ada perasaan lain di hatiku yang pada akhirnya dengan membaca buku ini, perasaan tersebut dapat kumengerti. Buku ini berisi prosa dan cerita-cerita pendek yang sebenarnya menceritakan hal-hal yang selama ini sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari namun dengan bahasa yang sangat indah hingga makna yang dirasakan lebih mendalam. Bahasannya kebanyakan mengenai cinta dan hal-hal romantis lainnya. Namun, keromantisan tersebut tidaklah diumbar dengan n

Peraduan Rembulan

Oleh: Siti Utari Rahayu Sekeping hari telah pecah pada suatu pagi yang cerah. Sinar matahari menyeruak masuk melalui celah-celah langit. Seorang gadis berpakaian kemeja putih ketat-rok pendek berbahan jeans telah bersiap untuk menyambut hari. Pandangannya menyala ke depan seakan-akan hendak menaklukkan dunia. Ditangannya tergenggam sebuah map merah. Sedang sepasang sepatu biru tua telah terpasang di kakinya.             “Bu! Maya pergi dulu, ya!” Teriak gadis itu dari teras rumahnya.             Seorang wanita tua tampak datang tergopoh-gopoh menuju teras. Sebuah handuk kecil tergantung di bahunya yang padat.             “Jadi kamu mengantarkan lamaran beasiswa itu? Sudah yakin?” Tanya wanita tua itu yang tak lain adalah ibu Maya.             “Tentu saja, Bu. Doakan Maya ya, Bu!” Katanya sambil kembali merapikan pakaiannya.             Ibu Maya mengangguk, tetapi Maya tak melihat anggukan ketulusan ibunya itu karena dia telah berjalan keluar.             Selepasnya

Selasar Merah

Oleh: Siti Utari Rahayu              “Apa yang hendak Mas bicarakan?” Tanyaku pada Mas Tanu, suamiku, sesaat setelah kami duduk di teras rumah.             Dia memandangiku dengan tatapan lembut, tatapan yang sangat kukenali. Lalu pandangannya dialihkan ke depan, memandangi langit di kejauhan. “Lihatlah sinar mentari itu, pancarannya menerangi kita,” katanya lagi seakan hendak mengalihkan pembicaraan.             Aku tersenyum saja. “Ya, dia bagai lampu panggung yang menyorot dua pemain drama utama,” kataku sambil menatapnya.             Dia mengalihkan sorot matanya kepadaku, beberapa menit kami saling bertemu pandang, mengalirkan rasa yang telah kupendam berbulan-bulan. Lalu dia tersenyum dan menundukkan kepalanya. Aku terus memandanginya sambil tertawa renyah.             “Mengapakah orang tuamu membangun rumah menghadap ke barat? Ke arah matahari tenggelam,” Tanyanya kemudian.             “Aku tak tahu pasti, Mas. Mungkin agar dapat menikmati matahari tenggelam

PERJALANAN

Oleh: Siti Utari Rahayu             Sudah 15 menit aku menunggu kendaraan umum yang dapat kutumpangi untuk sampai ke Medan. Namun belum ada satu pun kendaraan seperti itu yang lewat, hanya truk-truk besar melintas dengan kecepatan sedang, hari memang masih pagi, udara masih segar. Sekali-kali aku menoleh ke belakang, melihat rumahku yang tampak semakin tua, mungkin telah 30 tahun lebih berdiri di tanah Tebing Tinggi ini. Pasti sekarang ibuku sedang memasak makanan yang akan diantarnya untuk ayah di ladang. Aku kembali berpaling ke jalanan, bagaimanapun aku tak mau mengingat lebih dalam tentang kedua orang tuaku, rasanya hal itu hanya akan membuatku tersiksa, tersiksa karena cintaku pada mereka.             Dua bulan lalu aku memeriksakan diri ke salah satu rumah sakit umum di kota Medan karena aku sering sakit kepala. Dan betapa terkejutnya aku ketika mengetahui bahwa ternyata selama ini aku menderita tumor otak. Mungkin hidupku tak akan lama lagi. Aku masih merahasiakan h