Skip to main content

Respon Orang Taiwan Terhadap Makanan Indonesia

Beberapa pekan lalu, aku melihat salah seorang temanku mem-posting poster bazar makanan Indonesia di National Chung Hsing Taiwan, aku pun teringat akan pengalaman kami membuka bazar serupa di Tahun 2015. 



Pada saat itu, seperti biasa Universitas kami akan mengadakan suatu acara khusus untuk mahasiswa internasional yang ingin memperkenalkan makanannya atau kebudayaannya. Nah, saat tersebut kami manfaatkan sebagai momen untuk memperkenalkan makanan Indonesia. Temanku (Tri) pun menganjurkan agar aku menjadi ketua panitia dengan maksud agar aku belajar menjadi pemimpin. Jadi, walaupun golongan darahku O, tetap saja aku tidak cakap memimpin dengan tegas (aku terkadang tidak tegaan dan sering cuek). Tetapi, baiklah aku terima saja. Awalnya aku tidak membagi tugas karena aku merasa kasihan semua anggota pada sibuk kuliah (Hahaha), tetapi Tri mengatakan agar bagi tugas saja saat kami rapat, jika tidak tentu saja aku akan pusing sendiri (Hahaha, tu kan beneran aku nggak beres memimpin).

Anggota Tim Sukses

Berfoto di depan panggung

Singkat cerita, persiapan bazar pun dengan matang kami buat. Makanan yang kami jual adalah: Siomay (buatan Mbak Yayah yang kebetulan bekerja di daerah dekat kampus kami); Indomie Goreng; Indomie Ayam; Indomie Soto; dan berbagai macam kerupuk. Jadi saat itu, harga indomie 7 NTD dan kami menjualnya 45 NTD, karena kami tambah dengan irisan daun bawang, taburan bawang goreng, dan telur (baik rebus atau goreng). Poster promosi yang disebarkan di sosial media pun dibuat dengan sangat apik oleh Samantha. Judul Stand Bazar Kami adalah "RRRasa Indonesia" karena huruf 'R' yang sebenarnya susah dilafalkan itu juga termasuk ciri khas bahasa kita. Kwitansi pembelian kami buat menyerupai kwitansi di kedai makanan. Sebuah poster besar yang berisi menu kami dan juga memajang berbagai foto-foto daerah wisata dan budaya Indonesia (oleh Ega) terpajang di depan stand bazar kami. Selain itu, teman-teman yang lain pada mempromosikan ke teman lab mereka, bahkan ke profesornya. 

Banyak orang yang membantu. Seorang Bos tempat teman kami bekerja membantu kami dengan menjual mangkuk kertas yang sangat susah kami peroleh dengan harga yang murah. Teman-teman dari ISACH membantu meminjamkan kompor gas. 

Bagaimana respon para pengunjung? Ternyata, poster besar yang kami pajang itu sangat menarik perhatian, banyak orang datang, awalnya hanya untuk melihat poster kami, lalu jadinya membeli, bahkan seorang Spayol berkata, "Ohhh, Raja Ampat is in Indonesia!" Tuh kan benar, banyak yang belum tahu daerah-daerah terkenal itu punya Indonesia, satu target kami pun tercapai. Seorang Rusia juga datang berbelanja Indomie goreng. Seorang Jepang bahkan mencari nasi goreng, sayangnya kami tidak menjualnya. Menu favorit para pengunjung adalah Indomie Goreng hingga habis tak tersisa satu kotak, bahkan setelah habis, masih banyak yang antri membeli, akhirnya kami menjadikan indomie kuah menjadi Indomie Goreng. Alhasil, makanan kami ludes tak tersisa (kecuali siomay yang sengaja untuk dimakan bersama). Banyak yang berkomentar bahwa makanan kami enak: mereka nyatanya sangat suka Indomie Goreng, berbagai pujian pun datang. Awalnya kami mengira akan rugi secara finansial, ternyata sangat untung hingga kami merayakannya dengan makan bersama di sebuah restoran seafood. Sebuah pengalaman yang sangat baik, aku juga jadi banyak belajar untuk memimpin.

Perayaan selepas kesuksesan
Nah, selain itu, aku sangat suka membagi-bagi makanan Indonesia dengan teman-teman lab-ku, berupa Gery Chocolatos, Gery Cheese, Martabak Medan, Martabak Mie, Nutrijel, Rendang, Kolak Ubi Manis, Tempe goreng, Biskuit Roma, Bakwan dan berbagai makanan Indonesia dari Ega, Kecap ABC, permen Relaxa. Respon teman lab-ku: Sangat enak! Temanku (orang Taiwan) bahkan sampai repurchase Kecap ABC dan permen Relaxa. Dia bahkan bertanya dimana bisa mendapatkan makanan Indonesia, terutama sotong sambal yang saat itu aku peroleh dari Ega. Nyatanya temanku sangat suka sotong tersebut meskipun awalnya dia tidak bisa memakan makanan pedas. Dan, aku baru tahu, banyak orang Thailand yang suka dengan saos sambal ABC sampai-sampai salah seorang dari mereka selalu membawa saos tersebut kemana pun. 

Salah satu hal yang membuatku terkejut adalah ketika temanku kuberi Nutrijel, dia sangat suka sampai-sampai dia juga membeli Nutrijel di toko Indonesia dan membuatkannya untuk pacarnya, pacarnya ternyata membagi Nutrijel tersebut dengan neneknya hingga neneknya meminta untuk dibuatkan Nutrijel lagi. Begitu juga dengan teman yang lain, sampai mereka bertanya dimana tempat membeli Nutrijel. Kayaknya aku jualan Nutrijel dan Indomie Goreng di Taiwan bakal kaya deh hahaha.   





Comments

  1. hahaha bangga karena makanan Indonesia bisa dijual dan terkenal diluar negeri.

    ReplyDelete

Post a Comment