Skip to main content

Study Tour di Taiwan (Kepedulian Efektif)

Hai Manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal (Al-Qur'an Surat Al-Hujurat:13)
Setiap negara yang memiliki masyarakat berbeda, pasti juga memiliki budaya dan karakteristik orang yang berbeda-beda pula. Demikian juga dengan Taiwan, meskipun secara sekilas wajah mereka mirip dengan orang Indonesia, terutama suku Tionghoa Indonesia, tetapi menurutku mereka memiliki karakteristik yang cukup berbeda dengan orang-orang di Indonesia, terutama di Kota Medan. Beberapa hal berikut adalah hal yang kupelajari dari masyarakat Taiwan berdasarkan pengalaman dan pendapatku sebagai orang Medan semata. Tak menampik kemungkinan, karakteristik-karakteristik berikut juga sebenarnya dimiliki oleh orang-orang Indonesia yang terdapat di  belahan daerah lain di Indonesia yang belum pernah kukunjungi.

Cherry Blossom di Taiwan

1. Kepedulian yang efektif dari masyarakat Taiwan

Kenapa aku mengatakan efektif ? Karena mereka peduli di saat yang tepat, bukan peduli karena ingin mencampuri urusan pribadi orang lain (kepo), atau karena ingin mengambil keuntungan dalam kesempitan. 

Ada beberapa pengalaman yang menyebabkanku berani mengatakan demikian. Pengalaman pertama olehku dan Kak Herta yang sedang mengadakan perjalanan ke New Taipei City di bagian Taiwan Utara. Saat itu kami hendak mengunjungi beberapa daerah pariwisata, yaitu Old Caoling Tunnel dan sebuah pantai dengan menggunakan sepeda. Tentu saja kami harus menitipkan tas kami yang berat pada loker yang tersedia di stasiun. Kasihannya, kami tak bisa menggunakan loker tersebut dan kami tetap berusaha untuk membaca petunjuk penggunaan dan menekan-nekan tombol pada loker. Secara tidak disangka-sangka, seorang lelaki separuh baya mendekati kami dan dengan menggunakan bahasa Mandarin plus bahasa tubuh mengajari kami menggunakannya hingga kami dapat menggunakan loker tersebut walau kami sebenarnya tidak mengetahui arti Bahasa Mandarin yang diucapkan oleh bapak tersebut. Kami sangat berterima kasih kepada bapak tersebut. Ternyata beliau adalah seorang supir taksi yang sedang menunggu pelanggan, sempat-sempatnya bapak itu menolong di saat yang memungkinkan baginya untuk dapat sibuk menawarkan taksinya kepada pengunjung lain. Toh, dia pasti tahu bahwa kami tidak akan naik taksi karena kami jelas-jelas menitipkan tas kami di loker.
Salah satu jalan bersepeda di Taiwan
Cerita lain dari teman sekamarku, Kak Sara, yang pernah kesulitan memperbaiki rantai sepedanya di tengah jalan di depan Danau NCHU hingga tangannya hitam oleh oli sepeda. Tanpa disangka-sangka seorang wanita muda mendekatinya dan memberikan beberapa lembar tisu serta berkata dalam Bahasa Mandarin dan tubuh agar Kak Sara dapat membersihkan tangannya dengan tisu tersebut. Wanita muda tersebut adalah seorang ibu muda yang kebetulan sedang bertamasya ke Danau NCHU bersama keluarganya. Super sekali!

Selanjutnya, ada lagi cerita dari seorang dosen tamu di Tunghai University (Maafkan aku yang lupa mengingat nama bapak dosen tersebut), yang pernah kesulitan menemukan jalan ke suatu tempat hingga bertanya pada seorang ibu tua di bus dengan campuran Bahasa Inggris, sedikit Mandarin, dan bahasa tubuh. Ibu tua yang tidak bisa berbahasa Inggris tersebut pun segera mengajak turun dosen tersebut di suatu perhentian bus, menyetop bus lain, dan mengantarkan bapak dosen kita untuk dapat sampai di tempat yang dimaksud. Double Super Sekali! Dosen tersebut sangat terkesan hingga dia menceritakannya kepada kami-kami, mahasiswa Indonesia, pada suatu kesempatan.

Cerita terakhir datang dari Prof. Lee, supervisorku. Pada suatu acara makan malam bersama, teman-temanku sengaja mendudukkanku di sebelah Prof.Lee karena mereka sebenarnya segan untuk duduk bersebelahan dengan Prof.Lee (Aku pun demikian sebenarnya, tetapi tak ada kursi lain yang tersedia). Lalu, aku mulai berbincang-bincang dengan Prof.Lee mengenai pekerjaanku di Indonesia sebelum berangkat ke Taiwan dan berapa gaji yang kuperoleh. Aku pun menjawab dengan jujur dan santai saja karena menurut pengalamanku sebagai orang Medan, perbincangan seperti itu hanyalah untuk berbasa-basi saja agar suasana tidak begitu kaku. Ternyata, beberapa hari kemudian Prof.Lee memanggilku ke ruangannya dan mengatakan bahwa Prof. Kuo dapat memberikanku uang tambahan hingga honor bulananku di Taiwan dapat mengimbangi gajiku di Indonesia. Super sekali, bukan? Beliau menyatakan bahwa, pada rapat jurusan beberapa hari yang lalu (setelah perbincanganku dengan Prof. Lee pada makan malam), dia menyatakan bahwa aku sudah seharusnya mendapatkan honor lebih sebagai mahasiswa Internasional, sehingga Prof. Kuo yang memang memiliki banyak biaya pendaan dari pemerintah Taiwan bersedia memberiku honor tambahan. Berdasarkan hal ini, aku pun berkesimpulan bahwa mereka memiliki kepedulian yang efektif bahkan untuk sesuatu yang tersirat saja, mereka dapat melihatnya.

Demikianlah ceritaku untuk saat ini, di lain artikel aku akan menceritakan pelajaran-pelajaran yang kuambil ketika berada di sana. Semoga kita semua dapat berubah ke arah yang lebih baik.


Comments