Skip to main content

Dua Puisi Robert Frost yang Menawan

Selain puisi-puisi  Sapardi Djoko Damono, terutama yang berjudul,"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana",  Aku juga sangat menyukai puisi-puisi Robert Frost, terutama dua puisinya yang berjudul "The road not taken" dan "Stopping by woods on a snowy evening".  

Taichung, Taiwan

Aku mengenal Robert Frost dari suatu diskusi pagi 'English Club' di IFDS Siti Hajar Medan beberapa tahun silam. Kala itu, salah seorang guru Bahasa Inggris mengangkat puisi ini sebagai bahan diskusi. Aku pun langsung terpana begitu membacanya. 

The Road Not Taken
By: Robert Frost

Two roads diverged in a yellow wood,
And sorry I could not travel both
And be one traveler, long I stood
And looked down one as far as I could
To where it bent in the undergrowth; 

Then took the other, as just as fair,
And having perhaps the better claim
Because it was grassy and wanted wear,
Though as for that the passing there
Had worn them really about the same,

And both that morning equally lay
In leaves no step had trodden black.
Oh, I kept the first for another day! 
Yet knowing how way leads on to way
I doubted if I should ever come back. 

I shall be telling this with a sigh
Somewhere ages and ages hence:
Two roads diverged in a wood, and I,
I took the one less traveled by,
And that has made all the difference.

(di-copy dari www.poemhunter.com)

Bagiku sendiri, yang bukan pelajar ilmu sastra, puisi ini terkadang mewakili hatiku ketika ingin menetapkan suatu pilihan di antara dua pilihan. Aku seringnya menimbang sisi negatif/positif dan beberapa kemungkinan yang timbul dari pilihan-pilihan tersebut; juga hasil dari pilihan-pilihan tersebut (And be one traveler, long I stood, And looked down one as far as I could, To where it bent in the undergrowth). Terkadang jika pilihanku nyatanya salah, aku pun merasa menyesal kenapa memilih terlalu cepat dan teringat bahwa suatu saat nanti aku harus berhati-hati dalam memilih (And both that morning equally lay, In leaves no step had trodden black. Oh, I kept the first for another day! Yet knowing how way leads on to way, I doubted if I should ever come back). 

Satu hal yang kusuka dari puisi ini adalah pemilihan suasana alam yang digunakan, seperti pada kalimat: Two roads diverged in a yellow wood, aku benar-benar akan mengkhayalkan suasana ini begitu membacanya. Robert Frost memang terkenal dalam menggunakan unsur-unsur alam karena beliau dulunya pernah juga berkarir sebagai petani (seperti yang kubaca dalam buku 'The Art of Teaching' karya Jay Parini). Aku memang suka segala sesuatu yang berbau alam (kecuali pelajaran biologi yang harus banyak menghapal tentunya), seperti juga cerpen karya-karya Ahmad Tohari yang menggunakan suasana alam dan pedesaan yang merakyat. 

Pada akhirnya, aku sangat menyukai bagian terakhir dari puisi tersebut yang menyatakan bahwa pilihan yang jarang dipilih orang lain mungkin akan membawa perubahan yang berarti bagi kita (I took the one less traveled by, And that has made all the difference). Jadi, aku berkesimpulan bahwa puisi ini menyiratkan agar jangan takut menjadi beda.

Hehuashan, Taiwan

Puisi yang berikutnya adalah Stopping by woods on a snowy evening

Stopping by Woods on Snowy Evening
By: Robert Frost

Whose woods these are I think I know. 
His house is in the village though; 
He will not see me stopping here 
To watch his woods fill up with snow. 

My little horse must think it queer 
To stop without a farmhouse near 
Between the woods and frozen lake 
The darkest evening of the year. 

He gives his harness bells a shake 
To ask if there is some mistake. 
The only other sound’s the sweep 
Of easy wind and downy flake. 

The woods are lovely, dark and deep, 
But I have promises to keep, 
And miles to go before I sleep, 
And miles to go before I sleep.
 
(di-copy dari www.poetryfoundation.org)

Di sini, aku terpana akan kemisteriusan yang disajikan di tiap-tiap kalimat dan cerita yang digambarkan. Untuk pemaknaannya sendiri aku tak begitu paham, yang jelas aku sangat suka bagian akhirnya: The woods are lovely, dark and deep, But I have promises to keep, And miles to go before I sleep, And miles to go before I sleep. yang menurutku mengatakan bahwa kita harus fokus terhadap tujuan-tujuan kita walau ada sesuatu yang menarik perhatian kita di tengah perjalanan. 

Robert Frost sendiri adalah seorang pengajar dan penulis yang sukses. Pada buku karya Jay Parini, disebutkan bahwa para mahasiswa akan terhipnotis dengan kelas beliau dan terpapar dengan diskusi liar yang panjang. Beliau juga dapat dengan sukses menyeimbangkan kehidupan sebagai pengajar dan penulis. Benar-benar memotivasi. 

Untuk dapat melihat analisis puisi beliau dari orang-orang sastra (betulan), maka kita bisa googling dan akan menemukan banyak website atau blog yang mendiskusikan puisi-puisi di atas, bahkan juga ada video-nya di Youtube.  



Comments