Skip to main content

Pengalaman Belajar Fisika di NCHU Taiwan

"Tuntutlah Ilmu walau harus sampai ke negeri Cina"  -pepatah Arab-
Sejak lulus dari perkuliahan strata-1, aku sering membaca blog-blog orang yang sedang atau pernah berkuliah di luar negeri, terutama di Negara Jerman, karena aku sangat terinspirasi untuk merasakan belajar fisika di negara tersebut. Blog-blog tersebut sangat menginspirasi, meskipun pada akhirnya aku tidak pernah mendaftarkan diri ke negara-negara tersebut. Dan, sebelum awal keberangkatan ke Taiwan, aku juga membaca blog pelajar Indonesia yang menjelaskan tentang sistem kuliah di Jepang, negara yang dekat dengan Taiwan. Hal tersebut kulakukan untuk mendapatkan gambaran tentang sistem pendidikan di negara-negara Asia Timur. Untuk National Chung Hsing University (NCHU) Taiwan sendiri, aku merasakan pengalaman yang mirip dengan pelajar-pelajar Indonesia tersebut.

Jalan di depan Gedung College of Science yang dilindungi pohon maple

Sebelum aku berangkat ke Taiwan, aku menghubungi dosen yang bidang penelitiannya ingin kudalami melalui email untuk menanyakan kesediannya menjadi pembimbingku di kemudian hari di NCHU. Bersama dengan email tersebut, juga kulampirkan LoA, CV, dan Personal Statement-ku. Alhamdulillah, Prof. Ming-Way Lee bersedia menerimaku dan mengatakan bahwa di grup penelitiannya sekarang juga ada mahasiswi internasional yang lain dari Thailand. Beliau menanggapi dengan sangat positif hingga aku pun membuat janji bertemu dengan Prof.Lee ketika sampai di Taiwan. Demi persiapan diri untuk menghadapi pertemuan itu, aku juga membekali diri dengan membaca berbagai artikel-artikel ilmiah beliau dan ilmu dasar tentang sel surya, bidang yang ingin kutekuni. Sepertinya hal ini sangat perlu bagi kita yang ingin melanjutkan diri untuk berkuliah di luar negeri.

Sesampainya di Taiwan, teman-teman se-angkatan-ku yang juga merupakan pelajar Sumatera Utara menemaniku untuk mendapatkan ruang/kantor Prof. Lee. Dan pertemuan pertama tersebut sangat berkesan: ini pertama kalinya aku berbicara dengan orang asing di negara lain, sungguh mendebarkan. Prof. Lee adalah orang yang sangat baik dan terbuka, dia tidak meng-interview-ku mengenai fisika atau hal-hal yang berhubungan dengan sel surya, tetapi beliau justru menanyakan kapan aku sampai di Taiwan, bagaimana keadaanku sekarang, dan dimana aku tinggal di Taiwan. Selanjutnya aku mengaku bahwa aku tidak memiliki ilmu yang sangat sedikit tentang sel surya, apakah itu tidak masalah baginya. Beliau mengatakan bahwa semua yang belajar di penelitiannya juga belajar dari nol, jadi aku tidak perlu khawatir. Selanjutnya, beliau menjelaskan sedikit tentang apa yang ditelitinya. Satu hal yang selalu kuingat adalah bahwa beliau mengatakan bahwa sains adalah tentang segala sesuatu yang baru, jadi sebagai peneliti, kita harus berpikir terbuka dan berinovasi. Saat aku menanyakan tentang apa yang perlu aku pelajari, beliau justru mengatakan bahwa saat ini aku tidak perlu mengkhawatirkan hal tersebut, hal terpenting adalah bahwa aku sudah memiliki tempat tinggal yang nyaman dan beradaptasi dengan lingkungan Taiwan.

Pintu ruang asisten 302

Meja kerja kami

Beliau lalu mengantarkanku ke ruang asisten laboratorium untuk dapat melakukan "laboratory tour" dan memperkenalkanku dengan mahasiswa di grup penelitiannya. Aku pun ditemani dengan dua orang mahasiswa yang memperkenalkan alat-alat laboratorium di grup penelitian tersebut, salah satu mahasiswa yang menemaniku ketika itu, Andy Chang, sekarang sudah berada di Amerika untuk melanjutkan kuliah S2 dan S3-nya. Aku juga berkenalan dengan mahasiswa/i yang lain. Saat itu pula, aku ditunjukkan meja kerja oleh mahasiswa senior dari Thailand, Benny.

Alat-alat dasar yang kupakai untuk praktikum, masing-masing orang akan memiliki alat-alat dasar seperti ini
Salah satu lab untuk melakukan penelitian dan praktikum

Jadi aku pun berkesimpulan, di kebanyakan negara-negara luar, masing-masing dosen tetap akan menanggungjawabi satu bidang penelitian yang terdiri dari beberapa laboratorium (dosen-dosen tersebut sudah bergelar doktor dan menjalani "posdoc"). Dan, mahasiswa-mahasiswa S2 dan S3 harus memilih satu dosen sebagai pembimbing mereka dan masuk ke grup penelitian tersebut. Mereka akan mendapatkan meja kerja di ruang asisten laboratorium tersebut, juga akses untuk menguasai berbagai macam alat yang ada di laboratorium tersebut. Di NCHU Taiwan sendiri, nama-nama dosen beserta nomor kantornya terpampang di bagian depan gedung hingga mahasiswa bisa mengunjungi dosen-dosen tersebut sesuai dengan nomor kantornya. Masing-masing laboratorium juga memiliki website sendiri. 
Komputer bersama lengkap dengan printer dan scanner

Mahasiswa/i S2 dan S3 di sini harus dapat hadir di laboratorium setiap hari dari pukul 9 pagi hingga 6 sore (selain ketika masuk kuliah) untuk dapat belajar dan mengerjakan praktikum dasar (untuk mahasiswa S2 tahun pertama) dan melakukan penelitian (untuk mahasiswa S2 tahun kedua). Sebenarnya, mahasiswa yang mendapatkan gaji dari laboratorium adalah mahasiswa S2 tahun kedua atau mahasiswa S3, terkecuali jika laboratorium tersebut mendapatkan dana penelitian yang besar hingga mahasiswa tahun pertama pun akan diberi gaji dengan syarat membantu penelitian-penelitian di laboratorium tersebut. Gaji di NCHU Taiwan adalah 6.000 NTD/bulan atau saat itu setara dengan 2,4 juta (Mahasiswa S2) untuk mahasiswa S3 aku kurang tahu besarannya, tetapi temanku mengatakan untuk mahasiswa lokal kira-kira minimal senilai 15.000 NTD/bulan atau saat itu 6 jt (Gila kan, kita kuliah, malah kita digaji, hahaha), perkecualian untuk mahasiswa internasional yang gajinya tergantung kebijakan dosen masing-masing. 

Pada masing-masing grup penelitian, rapat (lab meeting) akan diadakan minimal seminggu sekali untuk melaporkan hasil-hasil penelitian serta rencana kerja di kemudian hari. Untuk teknis rapatnya tergantung pada dosen masing-masing. Di grup Prof. Lee sendiri, rapat akan diadakan dua minggu sekali dan pada setiap rapat, kami harus melaporkan hasil praktikum atau penelitian kami masing-masing.

Jumlah SKS yang harus diambil pada saat tersebut adalah 30 SKS dengan 6 SKS untuk thesis, 4 SKS mata kuliah wajib di grup penelitian, dan 3 SKS mata kuliah wajib untuk mekanika kuantum, 2 SKS mata kuliah wajib seminar dan 0 SKS mata kuliah wajib presentasi. Kita juga dapat mengambil 3 SKS mata kuliah umum, saat itu aku mengambil mata kuliah umum: Scientific Writing yang ternyata untuk mahasiswa ilmu sosial sehingga aku pun harus turut belajar penelitian ilmu sosial dan mengadakan penelitian kecil-kecilan (yang membuatku trauma untuk menyebarkan kuesioner), keuntungannya aku jadi mengetahui cara memakai SPSS. Juga, kami harus mengikuti mata kuliah seminar yang kelasnya berupa kelas seminar umum dengan pembicara dari luar, syarat kelulusannya: bertanya sebanyak 4 kali di kelas tersebut. Ada lagi mata kuliah presentasi yang 0 SKS namun tetap memiliki banyak tugas: 2 kali presentasi kecil, 1 kali pembuatan artikel ilmiah dari 2 artikel yang sudah dipublikasi (IF>2), dan 1 kali presentasi besar. Pada mata kuliah presentasi ini kita juga wajib membuat video presentasi, me-review artikel teman, membuat poster, dan melakukan simulasi konferensi.

Dosen mengajar dengan bilingual: Mandarin dan English, juga dosen memberikan textbook yang digunakan atau diktat. Masing-masing dosen memiliki gaya mengajar yang berbeda-beda, tetapi tetap saja ada tugas atau kuis. Jika 3 SKS, maka kelas dimulai pukul 09.00 pagi dan berakhir pada pukul tepat 12.00 dengan istirahat 2 kali 10 menit. Salah satu kelas yang kuikuti mewajibkan mahasiswa menjawab soal mekanika kuantum dengan bahasa pemograman Phyton dan ujiannya lisan. Mata kuliah lain mewajibkan kami melakukan penelitian dan pengujian dan mempresentasikan hasilnya. Semua kelasnya sangat kreatif dan menantang hingga kita bukan hanya kuliah tetapi juga belajar.

Aku sangat kagum dengan dosen dan mahasiswa lokal Taiwan yang sangat pintar, mereka memiliki pegangan dasar fisika yang sangat kuat, padahal sejauh yang kulihat sistem pengajarannya masih sistem tradisional dan mahasiswa cenderung pendiam dan jarang mau bertanya seperti mahasiswa Indonesia, tetap saja mereka sangat pintar. Aku yang saat itu sudah jarang bersentuhan dengan fisika terpaksa belajar ekstra waktu untuk dapat mengejar ketertinggalan. Satu hal yang juga berbeda dari Indonesia, pendidikan S1 di Taiwan tidak memerlukan skripsi atau tugas akhir, karena penelitian seperti itu hanya pilihan saja, boleh ada boleh juga tidak. Tetapi tetap saja herannya lulusannya memiliki pegangan dasar bidang ilmu yang sangat kuat. Salah seorang mahasiswa S1 yang kukenal sangat-sangat pintar, padahal terkadang dia tertidur di kelas, kelas Mekanika Kuantum pula. Aku yang mendengarkan sepenuh hati di kelas tersebut justru belajar lagi dengan mahasiswa tersebut untuk mengerjakan tugas kelompok mekanika kuantum, sungguh mengenaskan, hahaha.

Untuk pakaian, tidak ada larangan untuk memakai kaos, celana pendek, atau sandal di kelas, bahkan mahasiswa di kelas-kelas yang kumasuki juga dapat masuk terlambat dan memakan sarapan mereka di kelas (kecuali di beberapa kelas yang memang tidak boleh makan), bebas saja, yang penting para mahasiswa memperoleh sesuatu dari kelas tersebut. Aku merasa, hal ini  mungkin terjadi karena banyak dosen di Taiwan adalah lulusan Amerika Serikat, jadi mungkin untuk pengajaran mereka sedikit-banyak mengikuti cara pengajaran di Amerika Serikat.

Thanksgiving Teacher bersama seluruh anggota laboratorium sebelum pulang ke Medan

Informasi:

Kampus NCHU Taiwan: https://www.nchu.edu.tw/en-index

Office of International Affairs:http://www.oia.nchu.edu.tw/index.php/en/for-students-en/study-at-nchu-en

Website fisika: http://140.120.11.190/index_en.php

Comments