Skip to main content

Ruang Inspirasi: Rumah Pintar Anak Soleh (RPAS) Al-Ikram

Masalah rendahnya literasi, kenakalan remaja, dan peredaran narkoba di Kota Medan merupakan hal yang harus segera ditanggulangi mengingat pentingnya peran generasi muda sebagai penerus bangsa Indonesia kedepannya. Namun, jika kita hanya mengharapkan pemecahan masalah dari pemerintah, maka dapat dipastikan bahwa kita akan sangat tidak sabar, bahkan cenderung 'gerah' dalam menunggunya. Saya ingat Pak Ferry selaku Ketua Umum MASIKA ICMI Pusat dari pernah berkata, "Jadilah pelaku sejarah, bukan penonton sejarah. Seorang dikatakan cendekiawan bukan karena banyaknya gelar pendidikan yang diperolehnya, tetapi dari konstribusi yang telah diberikannya kepada masyarakat." pada pelantikan MASIKA ICMI Orwil Sumut. Dan sebagai seorang pemuda Indonesia saya merasa lebih terinspirasi lagi untuk mengambil bagian dalam berkontribusi untuk masyarakat, tetapi bagaimana ya cara yang efektif?

RPAS Al-Ikram Tanjung Gusta Medan

Saya pernah dengan bahwa bergabung dengan suatu komunitas merupakan langkah awal yang baik untuk dapat belajar melihat dunia luar dari suatu sudut pandang yang mungkin dapat membantu kita mendalami masalah-masalah di masyarakat dan mendapatkan solusi dari masalah-masalah tersebut. Oleh karena itu saya pun bergabung dalam komunitas Medan Membaca yang giat dalam pergerakan budaya literasi di Kota Medan. Dari komunitas tersebut, saya mengenal Salsa Putri Sadzwana Sihombing yang merupakan penulis buku remaja dan pendiri Forum Pelajar Sumatera Utara, saat itu Salsa mengatakan bahwa dia menerima sumbangan buku-buku untuk taman baca di sebuah rumah pintar di Tanjung Gusta Medan. Wah, tentu saja saya sangat tertarik untuk menyumbang buku. Akhirnya saya pun mengenal Rumah Pintar Anak Sholeh (RPAS) Al-Ikram di Tanjung Gusta Medan.
Anak-anak di RPAS Al-Ikram bersama Salsa

Pendiri RPAS Al-Ikram ini adalah Pak Sardi dan Istrinya, Bu Eva. RPAS sendiri baru terbentuk secara formal pada bulan Mei 2016 lalu. Sebelumnya, Pak Sardi dan Bu Eva memang sudah membuka pengajian Al-Qur'an untuk anak-anak dalam rangka mendidik anak-anak, terutama anak-anak yatim dan duafa  di sekitar lingkungan tempat tinggal mereka. Satu hal yang membuat saya sangat terharu adalah tujuan dari pengajian ini sebenarnya adalah untuk memutus generasi pengguna narkoba di daerah tersebut. Seperti yang disebutkan Pak Sardi bahwa daerah tersebut termasuk "red zone" dimana anak-anak selepas SMA dipastikan 80%-nya sudah menjadi pengguna narkoba, padahal anak-anak tesebut biasanya adalah anak yatim atau dari kaum menengah ke bawah. Bayangkan saja bagaimana jadinya bangsa kita jika kondisi seperti ini terus dibiarkan? Melihat hal tersebut, tentu saja Pak Sardi dan istrinya tidak dapat tinggal diam hingga pengajian pun dibuka untuk mendidik anak-anak agar tidak terbawa arus kejahatan di lingkungan tersebut. Nyatanya, banyak anak-anak yang menjadi tidak konsisten dalam mengikuti pengajian, hingga Pak Sardi dan Bu Eva pun berinisiatif untuk menjadikan usaha mereka menjadi lebih formal, yaitu Rumah Pintar Anak Sholeh (RPAS) Al-Ikram yang juga menyediakan penyelenggaraan pendidikan taman kanak-kanak.
Salah satu kegiatan perayaan Hari Guru 2017
"Kita tidak bisa melawan dengan langsung, tetapi kita masih punya jalan untuk melawan kondisi ini," begitu kata Pak Sardi dengan antusias. Walaupun demikian, usaha Pak Sardi ini tentu saja tidak berlangsung dengan damai, pengedar narkoba yang mencium tujuan RPAS ini beberapa kali pernah melempari rumah beliau dengan batu, namun beliau tidak gentar. Masya Allah, saya sangat terharu mendengar penjelasan beliau yang benar-benar menginspirasi dan penuh dengan pengorbanan. Kapan saya bisa seperti mereka?
Bersama guru-guru hebat di RPAS Al-Ikram

Ada banyak kegiatan di RPAS Al-Ikram ini, "Kami ini pendidik yang bekerja full-day," begitu kata Bu Eva yang juga sebagai guru TK di RPAS Al-ikram. Kegiatan pagi diawali dengan adanya TK Al-Ikram yang gratis untuk anak yatim dan dhuafa (anak selain mereka juga hanya membayar Rp.50.000/bulan), siangnya ada kegiatan pengajian setaraf MDA untuk anak-anak SD dan SMP, dilanjutkan dengan Tahfiz Qur'an. Untuk hari minggu ada 'Kelas Inspirasi' berupa kegiatan les Bahasa Inggris, Bahasa Arab, Menulis (oleh Salsa), dan kegiatan dari berbagai komunitas seperti Medan Heritage, Medan Apheresis, dan lain sebagainya. Pak Sardi juga mengatakan, RPAS Al-Ikram terbuka bagi berbagai komunitas dan elemen masyarakat yang ingin berbuat kebaikan kepada anak yatim dan dhuafa. Kelas-kelas itu semua gratis untuk anak yatim dan dhuafa, Bu Eva mengatakan bahwa mereka ingin sekali membuat anak-anak yatim ini menjadi termotivasi dan menjadi orang sukses di kemudian hari, Masya Allah, :). Dan, dari semua itu, Pak Sardi, Bu Eva, dan guru TK di RPAS Al-Ikram bekerja tanpa mengharapkan pamrih. "Rezeki di dunia itu dari Allah, InsyaAllah untuk tabungan akhirat," demikian kata Bu Eva. Mereka hanya berharap usahanya ini membuahkan hasil: anak-anak yatim yang sukses dan menjadi pemuda pembangun agama dan bangsa.

Masya Allah! Mungkin suatu saat akan ada banyak RPAS-RPAS lain di Kota Medan. Dalam Islam sendiri, kita selalu diajarkan untuk menyayangi anak yatim, ada 23 ayat Al-Qur'an yang mengandung perkataan 'yatim', itu artinya sebagai muslim sudah sepantasnya untuk memperhatikan dan ambil bagian dari menjaga anak yatim dan kaum dhuafa dari segi kejiawaan maupun materi. Allah berfirman dalam Q.S.Al-Ma'un:1-7:

"Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak memberi makan orang miskin, maka celakalah bagi orang-orang yang sholat, yaitu orang-orang yang lalai dari sholatnya, orang-orang yang berbuat riya dan enggan memberikan bantuan”.
Semoga menginspirasi, :)

Informasi:
Rumah Pintar Anak Sholeh (RPAS) Al-ikram
Jl. Klambir V, Gang Kesatria, Tanjung Gusta Medan
FB: Rumah Pintar Anak Sholeh (RPAS) AL-IKRAM "Kampoeng Hijrah"
IG: rumah_pintar_anak_sholeh

Comments