Skip to main content

The Trip: Jelajah Pulau Samosir (Perjalanan ke Tuk-Tuk)

Setelah melalui perjalanan yang panjang dan melelahkan, akhirnya kami disuguhi dengan pemandangan indah Danau Toba melalui jendela. Aku pun segera menghampiri kondektur bus untuk mengatakan bahwa kami ingin turun di Pelabuhan Tiga Raja karena jika aku tidak mengatakannya, maka bus akan menurunkan kami di Pelabuhan Ajibata yang merupakan pelabuhan utama. Untuk informasi, jika kita ingin menuju daerah Tuk-Tuk maka pelabuhan yang sebaiknya kita ambil adalah Pelabuhan Tiga Raja, tetapi jika kita ingin menuju Tomok atau daerah pusat pariwisata Parapat, maka pelabuhan yang kita ambil adalah Pelabuhan Ajibata (Pada pelabuhan ini juga terdapat kapal ferry yang dapat mengangkut kendaraan pribadi)

Pemandangan Danau Toba dari salah satu jembatan di Tuk-Tuk
Kami pun turun di Pelabuhan Tiga Raja yang juga terletak di daerah pasar. Karena kapal angkutan belum tersedia, kami memutuskan untuk berkeliling pasar. Temanku menemukan satu buah yang ternyata tidak dapat kita temui di Vietnam, yaitu buah terong belanda. Aku pun mengajaknya membeli jus terong belanda. Harganya hanya 10K dengan kuantitas yang sangat banyak. Satu hal lain yang ternyata mengagetkan temanku: Plastik tempat jus yang bukan berbentuk gelas plastik melainkan hanya plastik transparan belaka. Di Sumatera Utara, hal itu adalah hal yang lazim, tetapi ternyata tidak bagi temanku. 

Selanjutnya perjalanan melewati danau pun kami jalani. Aku pun sempat menceritakan dongeng ikan pembentuk Danau Toba. Temanku menyatakan bahwa jika danau tersebut terbentuk dari letusan gunung merapi maka pastinya danau tersebut sangat dalam. Dan benar saja, Danau Toba memang danau terdalam di dunia. 

Aku berulang kali menanyakan kepada kondektur kapal bahwa kami ingin berhenti di Tuk-Tuk dan untungnya kami turun di tempat yang tepat, karena ternyata kapal ini juga menyediakan jasa menurunkan penumpang di hotel-hotel tertentu. 

Sesampainya di Tuk-Tuk kami mendapati pemandangan yang sangat indah. Suatu perkampungan yang rapi dan asri dengan rumah-rumah berarsitektur Batak (tetapi bukan Rumah Bolon). Halaman rumah warga tampak dihiasi dengan berbagai tanaman indah, trotoar untuk pejalan kaki juga dicat merah bata yang indah. Beberapa toko souvenir yang unik tampak menghiasi kanan-kiri jalanan, sungguh indah. Satu hal yang kami senangi dari daerah ini adalah keasrian dan kesejukan udaranya. Beberapa macam bebungaan menghiasi pinggiran jalan, berpadu dengan indahnya merah bata dari trotoar.

Jalanan di Tuk-Tuk Siadong
Kami singgah ke rumah makan Islam yang ada di dekat perhentian kapal. Masakannya dihidang selayaknya rumah makan Padang. Lagi-lagi temanku terkejut melihat sambal merah menyala yang disajikan, dia akhirnya paham bahwa cabai adalah salah satu makanan pokok di Sumatera Utara. 

Sorenya kami berjalan-jalan di sekitar jalanan Tuk-Tuk, ada sangat banyak toko souvenir dan lukisan, beberapa toko juga menawarkan jasa belajar membuat ukiran atau kerajinan tangan lainnya. Pada suatu halaman, kami juga mendapati berbagai lukisan dipajang dengan tulisan "for sale" di bagian papan yang menaunginya. Aku segera saja memperhatikan lukisan-lukisan tersebut, semuanya indah-indah, hanya saja aku tak mempunyai cukup uang untuk membelinya. Seniman-seniman Indonesia memang mantap, jika saja kita lebih dapat memasarkan hasil seni seniman kita ke luar negeri, pasti akan sangat menyenangkan.
Suatu Toko Souvenir yang menampilkan arsitektur khas Samosir

Seniman kita memang top-markotop
Kami melanjutkan perjalanan ke arah jembatan, di beberapa dinding pembatas jalanan terdapat lukisan-lukisan dinding serupa grafiti, hal ini tentu saja sangat bagus karena memanfaatkan ruang-ruang kosong untuk berkreasi. Aku memang sudah sering melihat kondisi tersebut di berbagai tempat di Taiwan, tetapi hal tersebut jarang kutemui di Medan.

Sebagian jalanan juga sudah dihiasi dengan grafiti
Akhirnya kami tiba di sebuah jembatan yang menampilkan salah satu sudut Danau Toba, beberapa anak SMA terlihat juga sedang menikmati pemandangan dari jembatan tersebut. Beberapa turis  asing juga terlihat berseliweran di sekitar jalanan tersebut, mereka pastinya sedang menikmati jalan sore seperti kami.

Sore hari di Tuk-Tuk
Selain toko souvenir, jalanan di Tuk-Tuk ini juga dipenuhi dengan restoran dan penginapan. Biasanya pemilik hotel juga menyediakan restoran dan toko souvenir. Namun sayangnya, kebanyakan restoran di daerah ini adalah restoran yang menyediakan masakan daging babi mengingat makanan tradisional dari daerah ini memang berbahan dasar daging babi. Tetapi, tenang saja, rumah makan Islam masih tetap ada dan akan diberi tanda halal atau tulisan "Rumah Makan Islam". Kami pun mendapati satu restorang yang terlihat indah dan menyediakan masakan halal berupa arsik ikan yang menggunakan andaliman. Aku juga pernah merasakan rempah tersebut dan memang rasanya sangat enak dan pedas. Arsik Ikan juga merupakan makanan tradisional khas daerah ini, juga ada mie gomak.
Andaliman: Rempah nikmat khas Suku Batak
Karena ada banyak pengunjung muslim yang datang ke daerah ini maka hotel-hotel akan memisahkan dapur untuk muslim dan dapur untuk non-muslim. Seperti Hotel Marisca yang kami tumpangi, dapurnya terpisah antara muslim dan non-muslim, juga ada sertifikat dapur halal nya.  Aku juga merasa senang ketika sang pemilik hotel memanggil dengan kata , "nang", kata ini sering juga diucapkan temanku yang dari suku Batak, jadi aku merasa senang saja.

Hotel tempat kami menginap memisahkan daerah untuk memasak makanan halal dan daerah untuk memasak makanan campuran
Malamnya karena kecapaian, kami tertidur di kamar dan tidak sempat mencicipi arsik ikan yang kami idamkan.

Informasi:
Kapal menuju tuk-tuk tersedia dari Pelabuhan Tiga Raja, pastikan kalian berhenti di dermaga Tuk-Tuk. Jika memilih hotel, pastikan juga jaraknya tidak begitu jauh dari dermaga karena tidak ada transportasi umum di sini. Atau jika kalian dapat memilih hotel yang menyediakan jasa pengantaran langsung dari Pelabuhan Tiga Raja. Untuk mobil pribadi, tetap ambil Ferry dari Pelabuhan Ajibata dan dapat langsung ke Tuk-Tuk dengan mengendarai mobil. Jangan khawatir dengan bensin, ada banyak Pertamini di sekeliling Pulau Samosir.

Next Story: Keliling Pulau Samosir

Comments

  1. Makasih info. Saya kesana November ini. Mana hotel yg kamu stay di Tuk Tuk

    ReplyDelete

Post a Comment