Skip to main content

The Trip: 5 Hari Mengelilingi Malaysia (Penang)

Rute penjelajahan selanjutnya adalah Penang. Seperti yang kubaca dari beberapa website, perjalanan dari Melaka ke Penang dapat ditempuh dengan Bus yang tersedia di Melaka Sentral. Akhirnya, pagi ini kuputuskan untuk mencoba transportasi Uber untuk pertama kalinya untuk menuju Melaka Sentral, Alhamdulillah kami mendapatkan mobil yang dapat mengantarkan kami walaupun titik awal keberangkatan mobil tersebut cukup jauh dari lokasi kami. 

Malam hari di George Town
Aku pun terus mengamati arah perjalanan mobil yang ditunjukkan pada aplikasi, ketika mobil sudah mendekati daerahku, aku dan ibuku pun langsung keluar menuju ujung gang. Aku juga sangat bersyukur bahwa aku mempergunakan nomor Malaysia ketika mendaftar Uber tersebut hingga aku dapat berkomunikasi dengan pengemudinya. Singkat cerita, kami pun tiba di Melaka Sentral dengan aman dan ongkos yang cukup murah, 10 RM, lebih murah daripada ongkos taksi konvensional yang sering mematok harga sesuka hati.

Dengan langkah cepat, aku langsung bertanya kepada Bapak Satpam tentang lokasi loket Bus, akhirnya kudapati lokasinya yang terletak agak ke belakang dari pintu masuk utama. Ada berbagai Bus yang melayani perjalanan ke Penang, aku pun memilih salah satunya (Aku lupa apa nama busnya), dan aku bertanya tentang terminal di Penang yang tersedia, Butterworth atau Sungai Nibong, ternyata dua-duanya ada, Alhamdulillah. Untuk sekedar informasi, bahwa terminal di Penang yang dapat kita ambil itu ada 2, yaitu Butterworth dan Sungai Nibong. Jika teman-teman ingin mengunjungi Penang dengan bus dari suatu daerah lain di Malaysia, maka perhatikan terminal mana yang akan diambil karena keduanya terpisah laut yang cukup luas. Saat itu, karena aku dan ibuku ingin mengunjungi George Town, kami pun mengambil terminal Sungai Nibong. Ongkosnya adalah 44,5 RM/orang.

Ternyata waktu keberangkatan sudah sangat dekat hingga aku tak sempat membeli makanan untuk sarapan padahal perjalanan yang akan dilalui adalah 7 jam, aku berharap bahwa di tengah perjalanan akan ada waktu istirahat, nyatanya tidak ada! Hingga kami harus sedikit mencuri-curi waktu membeli makanan di setiap terminal perhentian sementara dan memakannya di dalam bus. Di sepanjang perjalanan hamparan hijaunya dedaunan menghiasi pinggiran jalan, kami melalui berbagai terminal hingga akhirnya tiba di terminal Butterworth. Saat itu pula aku merasa agak khawatir karena hampir semua penumpang turun! Padahal tadi aku sudah memastikan bahwa bus akan berhenti di terminal Sungai Nibong! Sungguh kekhawatiran yang berlebihan. Hampir semua penumpang di dekatku menjadi heboh karena pertanyaanku, untungnya mereka memberikan jawaban yang memuaskan. Perjalanan melintasi laut pun berlanjut, birunya laut menghiasi kanan-kiri jalan, sungguh indah dan aku takjub dengan jembatan ini!

Sesampainya di Terminal Sungai Nibong, gerimis menyambut, seorang bapak menghampiri menawarkan taksinya, ibuku langsung mengiyakan karena hujan akan segera turun. Untuk sampai ke hotel, kami dikenai ongkos 20 RM, sang bapak pun menawarkan taksinya untuk mengantarkan kami ke bandara untuk hari berikutnya dengan ongkos 50 RM, kami hanya menerima kartu namanya saja dan berterima kasih. 

Sesampainya di hotel yang sederhana, seorang bule yang juga pengunjung Penang membantu kami mengangkat koper dan membukakan pintu hotel, aku sungguh terharu dengan sikapnya tersebut. Memang, kebanyakan orang Western yang kutemui di berbagai perjalanan seringnya suka menolong dan juga mudah senyum (Tetapi aku tak tahu bagaimana sikap mereka di negara sendiri). 

Hotelnya cukup nyaman mesti aku tak begitu menyukai kamarku, tetapi harganya cukup murah dan karena itu pula maka aku tak memfotonya. Tiba-tiba hujan turun, padahal aku dan ibuku sudah merasa cukup lapar, hingga kami pun menunggu hujan reda untuk keluar membeli makan. Seorang penjual nasi campur dari ras India yang muslim, dia juga menjual teh tarik hangat seharga 2 RM, sedangkan nasi campurnya seharga 11.5 RM untuk 2 bungkus.

Malamnya hujan telah reda, aku pun memutuskan untuk jalan-jalan mengunjungi Night Market dan berkeliling melihat kota George Town. Benar saja, kota ini begitu hidup meski di kala malam. Banyak turis-turis yang terlihat menikmati obrolan dan makanan di berbagai restoran atau kafe, juga di Night Market-nya. Sayangnya, aku tak yakin kehalalan makanan yang banyak dijajakan di night market tersebut hingga aku pun memutuskan untuk membeli mie rebus yang dijual oleh seorang India Muslim. Sang penjual bertanya kepadaku tentang apakah aku menginginkan rasa pedas atau tidak, tentu saja aku menjawab, "Pedas!", tetapi nyatanya makananku sama sekali tidak pedas! rasa mie rebusnya sangat berbeda dengan mie rebus yang biasa kumakan di Medan, rasanya sangat manis. Malam pun kami habiskan dengan santai di kamar hotel.

Night Market
Mie Rebus ala George Town 
Pagi selanjutnya, aku dan ibuku langsung keluar mencari sarapan nasi, yang tersedia di warung dekat hotel adalah nasi uduk. Selepasnya, aku masih bingung mau kemana, berdasarkan peta yang diberikan sang pemilik hotel, ada beberapa titik utama Penang Street Art yang bagus dikunjungi untuk melihat mural art. Aku pun merasa tertarik dengan tempat tersebut. Sebenarnya, ibuku ingin pergi ke suatu taman dan duduk-duduk di taman, tetapi aku juga tidak mengetahui dimana ada taman hingga aku memutuskan untuk menjelajah kota menemukan titik utama tempat Penang Street Art tersebut, aku berpikir bahwa pada titik utama ini akan tersedia semacam bangku-bangku untuk tempat duduk, nyatanya dugaanku salah! Penang Street Art tersebut terletak di berbagai titik di kota tersebut! Dan, untuk mencapainya, kita harus berjalan dari satu titik ke titik lain! (namanya juga street art, neng!) Untungnya ada seorang pakcik ramah yang menunjukkan satu mural kepadaku dan menjelaskan beberapa titik mural lainnya. Aku pun sudah pasrah mencari titik-titik mural tersebut dan memutuskan untuk ke Fort Cornwallis berhubung ibuku sudah cukup lelah untuk berjalan. Nyatanya temanku yang sering ke Penang mengatakan bahwa kita bisa berkeliling mencari street art ini dengan bantuan Abang Becak seharga 30 RM (Dia mengatakannya setelah aku berada di Bandara Penang, pelajaran penting: Sebelum pergi ke suatu tempat sebaiknya berkonsultasi dengan orang yang pernah pergi kesana).

George Town di Penang memang sangat terkenal dengan Street Art-nya, dan ternyata mural-mural bertema anak-anak yang terkenal di Penang ini dilukis oleh seorang seniman muda asal Lithuania, bernama Ernest Zacharevic! Keren Si Abang!

Pagi di Salah Satu Sudut George Town

Mesjid Kapitan Keling, mesjid bersejarah, sayangnya kami tak sempat singgah dan tak tahu dimana jalan masuknya
Grand Swiss Bell Hotel juga menyediakan beberapa mural di bagian depan lorong menuju Hotel

Salah satu mural yang kami temui sepanjang perjalanan

 
Mural yang ini juga cukup terkenal, sayangnya beberapa jenis diantaranya sudah tidak terurus kondisinya karena terletak di sebelah warung kaki lima

Mural berjudul, "Little Children on A Bicycle" yang terkenal di George Town, seorang bule rela memboyong keluarganya dan menyewa fotografer profesional untuk berfoto di mural ini dan di seng-seng bekas di sekitarnya

Becak tradisional Penang, kita bisa diantarkan berkeliling mencari mural dengan harga 30 RM
(sumber: teman yang sering ke Penang)

Hal yang menarik perhatianku karena aku pecinta kain perca
Toko ini terlihat sangat unik dan keren
Kami pun langsung memesan Uber untuk menuju Fort Cornwallis, ongkosnya dari mural "Little Children on A Bicycle" tersebut adalah 7 RM. Nyatanya untuk masuk ke dalam Fort kita harus membeli tiket seharga 20 RM/orang. Kami pun masuk saja karena tidak tahu hendak kemana lagi, beginilah penampakan bagian dalam Fort Cornwallis,
Clock Tower dari bagian atas Fort Cornwallis 
Dalam bangunan tersebut terdapat berbagai pelajaran sejarah tentang Fort ini, namun aku tak masuk kedalamnya

Aku hanya merasa awannya indah, dipadu lagi dengan keunikan bentuk layar tersebut

Seni yang bagus dan kreatif sehingga para pengunjung yang masuk ke Fort Cornwallis ini dapat juga merasakan suatu sensasi berfoto yang unik, tidak hanya melulu mengenai sejarah
Fort Cornwallis merupakan benteng terbesar yang masih ada di Malaysia. Benteng ini dibangun oleh perusahaan hindia timur Britania pada abad ke-18 dan namanya diambil dari nama Gubernur Jenderal Benggala India. Hal lain yang perlu diketahui adalah bahwa benteng ini tidak pernah terlibat perang! Dari pengamatanku pemeliharaan yang dilakukan pemerintah Malaysia untuk benteng ini adalah terbilang sangat baik karena benda-benda bersejarah masih ada dalam kondisi yang baik. Bentengnya sendiri sangat luas dan dari bagian atas benteng kita dapat menikmati pemandangan laut yang berada tepat di belakangnya. Bagi kita yang muslim juga tidak perlu khawatir jika waktu shalat telah tiba karena satu kafe di benteng ini menyediakan tempat shalat, bahkan ada dispenser juga lho! Jadi bisa minum gratis! Memang harga 20 RM tergolong mahal, tetapi sepertinya cukup terbayar dengan pemandangan dan sensasi sejarah yang diberikan.

Aku suka warna daunnya

Meriam menuju pantai
Dan ternyata Fort Cornwallis tersebut adalah salah satu bagian dari Padang Kota Lama atau yang sering disebut The Penang Esplanade. Dari belakang Fort kami bergegas menuju jalan raya dan melihat pemandangan laut secara langsung. Tepat di sebelah pantai tersebut terdapat sebuah taman dengan pohon-pohon rindang, sekumpulan burung merpati juga terbang dengan indahnya. Ibuku sangat senang menghabiskan waktu disana, bahkan beliau hampir tidak mau bergegas pulang! Hijau, biru dan pemandangan kota di kejauhan sangat menarik perhatian. Beberapa orang terlihat bersantai menikmati pemandangan dan angin yang sepoi-sepoi.
Jalan Padang Kota Lama

Bangunan putihnya menawan, banyak sekali turis yang berlalu lalang

Masih di Padang Kota Lama, ada sekumpulan burung merpati yang indah di sini
Akhirnya setelah puas untuk bersantai, kami memutuskan untuk pulang dan bergegas menuju bandara. Satu hal yang juga sangat mengejutkan adalah ongkos UBER dari daerah Padang Kota Lama ke hotel kami di Lebuh Cintra hanya 3 RM saja!!! Ongkos dari Hotel ke bandara juga hanya 18 RM!!! UBER sangat direkomendasikan untuk area Malaysia.

Demikianlah akhir dari perjalanan kami menuju Malaysia!

Comments