Skip to main content

Surat

Oleh: Siti Utari Rahayu


Saat itu pukul 18.30 WIB, aku berdiri di balkon kamarku yang berada di lantai dua. Suasana kota Medan begitu hangat, langit di ujung barat memerah keemasan. Suara adzan kudengar bertalu-talu, lalu dari jalan depan rumahku kulihat Imran, tetanggaku berpeci dan bersarung, sepertinya dia hendak pergi ke mesjid. Demi melihatnya, hatiku tergerak, aku ingin ikut dengannya, tetapi ada segumpal perasaan di sudut lain hatiku yang menahanku, hingga aku hanya terpaku diam, berdiri di depan balkon hingga langit berubah kelam.

Aku masuk ke kamar ketika udara telah berubah menjadi dingin. Kulihat kembali surat yang telah kubuat sejak sore tadi, surat itu hendak kuberikan pada temanku sekampusku, Emir. Walaupun aku baru mengenalnya dua bulan, tetapi perasaanku mengatakan bahwa dia adalah orang baik yang dapat kujadikan sahabat.  Ya, sahabat dimana aku dapat mempercayakan segala isi hatiku padanya, sahabat tempatku berbagi suka dan duka. Kenapa aku begitu yakin padanya? Entahlah, aku tak tahu pasti, mungkin karena dialah orang yang selalu bersamaku saat untuk pertama kalinya aku merasakan kehidupan sebagai mahasiswa dua bulan yang lalu.  

Kubolak-balik suratku itu, surat yang panjang karena memenuhi tiga lembar kertas ukuran A4, dan sengaja pula kuketik komputer dengan jenis tulisan menyerupai tulisan tangan. Kubaca kembali isi suratku itu, beginilah isinya,

Dear sahabatku,

Melalui surat ini, aku ingin menceritakan kisah hidupku kepadamu. Aku tahu kamu pasti berpikir bahwa ini adalah suatu hal yang ganjil. Tetapi, aku hanya berharap kamu mau menghayatinya, mungkin suatu saat ceritaku ini berguna pula buatmu. Dan semua ini kulakukan karena aku menganggapmu sebagai sahabat. Kamu juga pasti bertanya-tanya dalam hati, kenapa aku harus menuliskannya melalui sebuah surat? Kenapa aku tidak menceritakannya langsung padamu? Atau melalui telepon saja? Jawabannya karena aku telah berusaha menghilangkan segala ingatan tentang kisah hidupku ini, tapi kejadian-kejadian itu tak bisa hilang sepenuhnya. Dan sekarang aku berubah pikiran, aku  ingin menceritakannya secara runtun, maka perlu waktu bagiku buat menyusun ingatan-ingatan itu dan hal itu tentunya membutuhkan waktu yang lama buat menceritakannya secara langsung.

Baiklah, akan aku ceritakan saja.  Aku dibesarkan dalam keadaan kaya dan tanpa kekurangan dengan kedua orang tua yang selalu menyayangiku, dan aku terbiasa hidup senang dan berfoya-foya, bayangkan saja,  aku sudah merokok dari kelas 2 SMP dan kesenanganku adalah bermain Playstation hingga larut malam. Orang tuaku sudah berusaha memarahiku tetapi aku masih belum jera. Anehnya, mereka tak pernah memberiku hukuman, mungkin karena aku adalah anak semata wayangnya, begitulah pikiranku saat itu.  

Pada saat aku berada di jenjang SMA, aku mulai mengenal cinta dan mulai berpacaran. Bagiku, bergenggaman tangan, berciuman dan berpelukan dengan wanita adalah hal yang biasa. Hingga di suatu sore yang indah, aku merayakan kelulusanku dengan pacar baruku yang masih duduk di kelas 1 SMA, dan saat itu gejolak perasaanku yang tak karuan mendorongku untuk mencium pipinya, padahal kami tengah berada di ruang tamu rumahku. Kejadian itu pun dilihat oleh ayahku, dan seketika itu pula wajahnya berubah merah padam, dia langsung menyuruh pacarku untuk pulang, dan aku ditariknya masuk ke kamar. Baru kali ini aku melihat ayahku benar-benar marah, memang baru kali ini aku ketahuan mencium seorang wanita. Lalu, ibuku datang dan menangis, ayahku terus menggempurku dengan hardikan dan kata-kata nasehat yang terdengar sangat kasar di telingaku. Aku hanya bisa diam, aku tak mengerti kenapa tindakanku dianggap sangat jahat, bukankah mencium pipi itu adalah hal yang biasa? Bahkan dipertontonkan di televisi. Malamnya aku termenung memikirkan kejadian sore itu.

Saat pagi tiba, ayahku menyuruhku untuk datang ke rumah sakit jiwa di Jalan Jamin Ginting. Aku katakan bahwa aku tak tahu dimana letak rumah sakit itu, lalu ayah mengatakan bahwa aku akan ditemani oleh Bang Agung, sepupuku, dengan mengendarai mobilnya. Aku tak mengerti mengapa ayah menyuruhku ke tempat itu, dalam hati aku curiga kalau ayah  menganggapku gila.

Sesampainya di sana, Bang Agung langsung menjumpai seorang suster yang tampaknya telah lama dikenalnya, mereka berbicara sebentar, lalu dia mengajakku ke sebuah kamar. Melalui jendela kamar itu,  aku melihat seorang wanita tua duduk termenung di depan sebuah meja putih, lalu saat suster itu membukakan pintu kamar, wanita itu menoleh dan berlari ke arah pintu,“ Jaka?” Tanyanya kepada suster dengan wajah berseri. Suster tersebut menggeleng dan wanita tua itu kembali murung, lalu dia menatapku. Aku terkesiap, jantungku seperti tersengat aliran listrik begitu melihat matanya, ada perasaan ganjil yang tak dapat kujelaskan dengan kata-kata, seperti de javu terhadap wanita tua itu. Lalu, wanita tua itu menangis sejadi-jadinya, “Jaka!!!Jaka!!!”  Begitu teriaknya. Suster lalu menutup pintunya. Kami pun beranjak meninggalkan kamar itu. Aku masih bingung dengan kejadian-kejadian hari itu, rumah sakit jiwa di jalan Jamin Ginting, dan wanita tua itu, apakah hubungannya denganku? Tetapi, aku diam saja. Aku yakin ayahku pasti menceritakan hikmahnya nanti.

Saat perjalanan pulang, Bang Agung bertanya,“Abang dengar Kamu mencium seorang wanita ya? Bagaimana perasaanmu terhadap wanita itu? Apakah Kamu mencintainya?”. Aku tersenyum singkat dan berkata, “Sebenarnya ciuman itu adalah ungkapan rasa sayangku terhadapnya, aku heran kenapa ayah marah padaku, bukankah itu hal yang biasa.”. Bang agung lalu berkata, “Begitu ya, Kalau kau benar-benar sayang padanya, putuskanlah wanita itu. Lalu, saat kamu sudah dewasa dan berpenghasilan, lamarlah dia. Mungkin bagimu pendapat Abang ini terdengar aneh, ya, itu wajar. Kamu tahu apa artinya cinta?”. Aku pun menjawabnya,“Cinta adalah rasa saling memiliki dan berbagi antara dua insan.”. “Apakah berciuman, berpelukan adalah bagian dari cinta?Ataukah dia bagian dari seks?Apakah mencintai harus berarti mencintai seorang wanita saja?”. Aku diam, aku belum berpikir sejauh itu, bagiku mencintai adalah ketika aku menyukai seseorang dan ingin memilikinya, dalam artian aku dapat berdekatan dengannya, memandangi wajah dan tubuhnya, dan berbagi cerita dengannya. Lalu Bang Agung melanjutkan, “Mencintai itu haruslah murni, jauh dari sifat kedangingan dan nafsu. Berciuman, bepelukan dan segala aktifitas seks bisa jadi adalah bagian dari cinta, tapi jika wanita tersebut adalah milik kita yang sah, atau sudah menikah. Jika kamu merasa memilikinya dan melakukan apapun yang kamu mau terhadapnya sebelum menikah, berarti kamu telah egois. Kamu harus dapat membedakan antara cinta dan nafsu”. Aku tak hendak membantahnya, walaupun aku ingin. Bagaimanapun aku bukanlah anak kecil lagi, yang selalu dianggap tidak tahu apa-apa. Aku pun mengalihkan pembicaraan dengan bertanya untuk apa aku dibawa ke rumah sakit jiwa ini. Bang Agung tersenyum lalu menjelaskan perihal wanita tua yang kami kunjungi tadi. Beginilah ceritanya:

Wanita tua tersebut menjadi gila karena ditinggal oleh pacarnya, namanya Jaka. Wanita tua itu baru berumur 17 tahun saat berpacaran dengan Jaka yang saat itu berumur 20 tahun, orang-orang mengetahui bahwa mereka baru berpacaran selama dua bulan, selama dua bulan itu Jaka sering sekali datang ke rumah wanita itu, dan sebulan kemudian wanita itu didapati telah hamil dua bulan. Tentu saja orang tua wanita itu sangat marah dan meminta pertanggungjawaban Jaka, Jaka mengiyakan. Namun, dia tak pernah kembali. Mereka sudah berupaya mencari Jaka, tetapi dia sudah tak berada di kota Medan, teman-temannya mengatakan bahwa dia sudah pindah ke Pekanbaru. Semenjak itu wanita itu selalu murung dan tiap pagi dia keluar rumah, menuju simpang gang, disana dia menunggu Jaka, lalu saat siang menjelang dia pulang ke rumah, kejadian itu berlangsung selama empat hari berturut-turut, hingga keluarganya tak tahan menanggung malu dan memasukkannya ke rumah sakit jiwa. “Bagaimana dengan anak yang dikandungnya?” Tanyaku saat itu. “Dia lahir dengan selamat dan diasuh oleh bude-nya yang kebetulan tak mempunyai anak. Sekarang kamu mengerti kan bahwa sebenarnya Jaka tidaklah mencintai wanita itu, dan segala tindakannya, berciuman, berpelukan dengan wanita itu bukanlah cinta.” Aku diam saja.

Sekali lagi aku berusaha mengalihkan pembicaraan dengan bertanya,“ Lalu, bagaimana anak itu sekarang? Tahukah dia bahwa ibunya adalah orang gila? Tahukan dia kalau dia adalah anak haram?”. “Menurutmu? Bagaimana kalau anak itu adalah kamu?”. Aku diam, tapi hatiku was-was, benarkah aku adalah anak wanita tua itu? Kalau tidak, lalu untuk apa aku dihukum untuk menjenguk wanita tua itu. Mungkin memang akulah anak itu. Lalu kudesak Bang Agung untuk mengatakannya, dia tak mau mengatakannya. Tetapi setelah kupaksa berkali-kali, barulah dia mengatakan yang sebenarnya, akulah anak wanita tua  itu.

Saat itu aku merasa hancur sehancur-hancurnya, aku menangis, untuk pertama kalinya. Bang Agung menyabar-nyabarkanku. Aku tak tahu harus bagaimana, aku merasa sangat bersalah terhadap orang tuaku yang ternyata bukan orang tua kandungku atas semua tindakanku selama ini. Aku merasa bahwa aku lebih hina dari Malin Kundang dan lebih patut dikutuk menjadi batu. Sesampainya di rumah, aku menangis sejadi-jadinya, dan bersimpuh di kaki ayah dan ibuku yang ternyata adalah pade dan bude-ku. Pade-ku menasehatiku dengan lembut dan memberi penjelasan bahwa mereka sangat sayang padaku dan mau memaafkanku. Sebenarnya pade belum sanggup untuk mengatakan yang sebenarnya kepadaku, tetapi dia tak ingin aku mengulangi kesalahan ibuku dan menghamili anak orang. Sejak itu aku menjadi pendiam dan berusaha berubah. Aku mulai memikirkan kehidupan ini, aku mulai menonton berita yang dulu selalu kubenci, mendengarkan acara-acara motivasi hidup, kaset-kaset Playstation kuganti dengan kaset film-film kehidupan yang bermutu, Tetapi, dahagaku tak pernah terpuaskan, seperti kata Letto,“Ada lubang dalam hati”. Apa mungkin karena aku anak haram yang tak tahu diri? Makanya aku diam saja ketika kepala dan tubuhku dipukuli senior-senior kampus, bagiku itu adalah bagian dari hukuman terhadap diriku.

Sahabat, demikianlah kisah hidupku. Sekarang ini aku tak tahu untuk apa aku hidup, aku hanya berjalan mengikuti alur waktu dan segala yang kulakukan hanyalah untuk membalas budi bude dan pade-ku, tapi aku merasa sangat kosong, hampa. Dan diam-diam aku mulai membenci wanita tua itu dan Jaka, orang tua kandungku. Akibat perbuatan mereka-lah aku menjadi sengsara. Untuk apa aku dilahirkan? Aku sangat menginginkan nasehatmu, tolonglah aku.

                                                                                                                                    Angga Rahmat

“Pip..Pip..Pip...,” tiba-tiba handphone-ku berbunyi, tanda bahwa ada SMS masuk. Aku mengambilnya dari atas tempat tidurku dan membaca isinya.

“Angga, aku pamit pulang ke Bandung, ayahku menyuruhku untuk kuliah di sana saja setelah aku menceritakan kejadian kekerasan pada saat Ospek kemarin. Jaga dirimu baik-baik kawan. Aku akan selalu mengingatmu. Emir.”

Hatiku sangat kecewa setelah membaca sms dari Emir tersebut. Betapa malangnya nasibku, aku merasa bahwa tak ada jalan lagi buatku untuk mencapai bahagia. Bagaimana tidak, belum berakhir kekecewaanku yang pertama, kini di saat aku mulai bangkit dan mengumpulkan sisa-sisa semangatku, kekecewaan yang kedua datang lagi. Emir pasti sedang dilanda perasaan kecewa juga. Mana mungkin aku menceritakan kekecewaanku pada orang yang sedang kecewa. Untuk beberapa saat aku hanya terdiam dan pandanganku mengawang.

“Tok...Tok...Tok...,” pintu kamarku diketok, lalu diikuti panggilan bude-ku, “Angga, ayo makan!”. Kulihat jam dindingku, pukul 19.15 WIB. Aku pun segera bangkit dan membuka pintu kamar, bude-ku menyambut dengan senyum hangat, aku juga tersenyum dengan senyuman yang hangat, tapi kosong. Kami makan malam dengan kehangatan yang sangat terasa, aku merasa bahwa bude dan pade-ku adalah malaikat penolong di kehidupanku yang sudah tak karuan ini. Tetapi hatiku masih tetap merasa bahwa ada sesuatu yang hilang dari diriku hingga aku selalu merasa kotor sekaligus kosong.

Selepas makan malam, aku mencek akun jejaring sosial milikku melalui Notebook, aku ingin mencari teman-teman yang senasib dengan diriku. Tetapi, bagaimakah caranya? Haruskan kukirim suratku ini ke semua temanku dan membiarkan beberapa atau salah satu dari mereka akhirnya mengakui bahwa nasibnya juga serupa denganku? Tetapi, bila hal ini kulakukan, bisa-bisa aku malah dianggap gila dan tak ada yang mau berteman denganku. Kuperhatikan semua status teman-temanku, ah, semuanya berisi kesenangan hidup: Pacaran, melihat konser band kesayangan, makan di restoran ternama, jalan-jalan ke mall. Aku menjadi bosan dan muak, dulu aku memang menyukai kehidupan sebagai itu, tetapi sekarang kutahu bahwa kebahagian sebagai itu bukanlah kebahagian sejati, kutahu hal itu karena aku telah merasakannya sendiri. Aku pun keluar dari akun tersebut. Mana mungkin aku meminta petunjuk hidup pada orang-orang yang juga membutuhkan petunjuk hidup.

Aku mulai membuka email. Pada email masuk aku membaca ada pengumuman lomba menulis surat untuk Presiden dari suatu situs perlombaan, aku memang suka mendaftarkan emailku pada  berbagai situs. Pengumuman itu mengatakan bahwa semua surat masuk akan dibaca oleh Presiden Indonesia. Lalu aku berpikir bahwa sebaiknya aku mengirimkan suratku itu kepada Presiden saja, bukankah presiden itu adalah kepala negara yang harus menyelesaikan semua permasalahan bangsa? Dan bukankah permasalahku ini menyiratkan suatu masalah yang urgen, masalah kemerosotan moral bangsa? Aku yakin bahwa di Indonesia ini bukan hanya aku, Angga Rahmat yang mengalami kejadian serupa itu, pasti ada banyak Angga-Angga yang lain. Ya. Kutahu itu dari berita-berita di televisi yang sering mengabarkan tentang anak bayi yang dibuang orang tuanya, praktek dokter penggugur kandungan, Si A yang diperkosa si B yang baru dikenalnya melalui jejaring sosial, dan banyak lagi. Sepertinya cukup tepat bila surat ini kualamatkan kepada Presiden Indonesia.  Tetapi, bukankah saat ini Presiden Indonesia sedang sibuk dengan urusan diplomasi dengan Malaysia? Belum lagi kasus kebocoran gas, isu terorisme, kemiskinan yang tak kunjung berkurang, dan juga pendidikan yang menyedihkan.  Apakah masalahku ini akan ditanggapi juga? Jika pun ditanggapi maka pastinya urusan akan diserahkan oleh Menteri ini lalu ke Departemen itu kemudian melewati administrasi yang panjang dan akhirnya penyelesaian masalah tersebut tidak akan sampai kepadaku. Juga mungkin kepada Angga-Angga lain. Lalu, kepada siapakah harus kualamatkan surat itu?

Adakah psikolog atau psikiater yang dapat membantuku melupakan semua masalahku ini hingga aku dapat memulai kehidupanku dengan normal? Adakah alat yang benar-benar dapat membantu seorang manusia melupakan satu sisi gelap hidupnya seperti yang pernah kulihat pada sebuah film? Jika ada, maka haruskah aku mencarinya? Dan jika demikian maka suratku itu menjadi surat mati, seperti kata The Rasmus dalam sampul albumnya, Dead Letter, “A dead letter is a letter that has never been delivered because the person to whom it was written cannot be found, and it also cannot be returned to the person who wrote it.” Itu sama saja artinya dengan aku membunuh bagian jiwaku sendiri. Ah, tidak, aku tak mau hal itu terjadi.

Malamnya aku tak bisa tidur nyenyak, tidak pula bisa terjaga sepenuhnya, mataku kupejamkan dan badanku kubuat sesantai-santainya. Pada mulanya aku merasa berada antara ada dan tiada, lalu tiba-tiba aku berada dalam runtunan kejadian-kejadian yang menghancurkan hidupku, aku melakukan kembali tindakan-tindakan dosa yang menyakitkan bude dan pade-ku. Aku menangis, aku melihat semua orang mencercaku, mengataiku anak haram yang tak tahu diri. Lalu, anak-anak haram yang senasib denganku berdatangan dari seluruh penjuru, mereka berkumpul di dekatku, menangis dan meraung-raung.  Tiba-tiba, aku terjaga, badanku berkeringat, bermimpikah aku tadi? Ataukah kenyataan? Kulihat jam dinding, pukul 4.45 WIB. Ah, aku memang bermimpi. Aku pun bangkit menuju balkon, aku ingin menghirup udara pagi.

Alam masih gelap, tetapi udara terasa begitu segar. Kupejamkan mata dan kurasakan angin dingin menampar-nampar tubuhku. Setelah 5 menit merasakan sentuhan angin, kubuka mataku lalu kulihat di jalan depan rumahku, Imran berpeci dan bersarung, hendak ke mesjid. Tanpa kusadari sepenuhnya, kupanggil dia, “Imran!!”. Dia menoleh dan tersenyum, lalu aku berjalan ke luar kamar, hendak menghampirinya. Kulakukan dengan pelan-pelan agar tidak mengganggu pade dan bude.

“Ayo, mau ikut shalat?” ajaknya saat aku membuka pintu gerbang.

“Boleh?” Tanyaku kembali.

Dia tersenyum dan bertanya kembali, “Kamu islam kan?”

Aku tertawa, betapa bodohnya aku menanyakan hal itu, aku beragama islam dan setiap orang islam memang harus melaksanakan shalat. Lalu aku  pun memintanya untuk menunggu sebentar, aku hendak berwudhu dan mengambil sarung. Lima menit kemudian kami pun pergi ke mesjid.

Untungnya hampir setiap minggu aku ikut shalat jumat bersama pade-ku sehingga gerakan shalat masih kuingat, walaupun aku tak pernah shalat wajib lima waktu, sepertinya baru kali ini aku shalat subuh kembali setelah 6 tahun yang lalu. Karena selepas lulus SD aku tak mengaji sore lagi dan shalat lima waktu pun kutinggalkan.

Selepas shalat, Imran mengajakku pulang, katanya hari ini tak ada ceramah subuh. Seketika itu pula aku berpikir bahwa sebaiknya suratku itu aku berikan saja kepada Imran, mungkin saja dia bisa membantuku, memberiku nasehat yang dapat menuntunku ke jalan yang benar dan hidup bahagia. Apalagi dia kuliah di IAIN (Institut Agama Islam Negri) Medan. Maka, sesampainya di depan rumahku, aku memintanya untuk menunggu sebentar di teras rumah, wajahnya menampakkan tanda kebingungan tetapi untungnya dia mengangguk dan mengikutiku masuk ke halaman rumah pade-ku. Dia duduk di teras rumah dan aku masuk mengambil surat itu. Satu menit kemudian aku keluar membawa surat itu dan menyerahkannya pada Imran, dia bingung dan bertanya, “Apa ini?”

“Itu surat mengenai kisah hidupku. Aku mohon bacalah. Nanti setelah kamu baca pasti kamu  akan mengerti. Sebenarnya aku hendak memberikan surat itu kepada teman sekampusku, tetapi dia sudah pulang ke Bandung karena tak tahan dengan kekerasan yang dialaminya saat Ospek.” jawabku dengan wajah murung.

Mungkin karena dia iba melihat wajahku yang sangat tak berseri itu, tanpa banyak bertanya lagi dia pun mengangguk dan berkata, “Kalau begitu, Aku pulang dulu ya, besok kita shalat subuh bersama lagi ya, surat ini akan kita bicarakan besok. Assalamu’alaikum!”

Wa’alaikumsalam!” Jawabku sambil tersenyum, hatiku terasa lega. Akhirnya surat itu dapat kualamatkan juga walaupun pada orang yang tak disangka-sangka.          

Besoknya selepas shalat subuh, Imran mengajakku duduk-duduk sebentar di teras mesjid sambil membicarakan suratku itu.

“Sebelumnya aku turut bersedih atas kejadian yang menimpamu, tetapi, anggaplah itu suatu bunga kehidupan. Aku tahu pasti berat menjadi dirimu, dan aku tak dapat berbuat banyak, karena yang kamu butuhkan bukan hanya sekedar nasehat saja. Lagi pula, aku baru mulai belajar tentang agama dan kehidupan, jadi ilmuku masih mentah. Bagaimana kalau kamu berkonsultasi dengan salah satu dosenku. Dia orang yang baik dan dia menamatkan S3-nya pada bidang psikologi. Dia pernah berkata bahwa jika kami hendak berkonsultasi tetapi malu mengatakannya secara langsung, maka kami bisa berkonsultasi kepadanya melalui surat elektronik dan chatting. Bagaimana?”

Aku mengangguk saja dan Imran pun memberikan alamat email dosennya, namanya Pak Darwis. Dan sorenya aku segera mengirimkan suratku itu melalui email, selain surat itu kutambahkan pula penjelasan bahwa aku telah mencari-cari orang untuk membaca surat itu dan menolongku, dari teman sekampusku sampai Presiden Indonesia, dan akhirnya kuberikan pada Imran yang menyuruhku berkonsultasi dengan Pak Darwis. Pengiriman email itu kulakukan sambil browsing tugas kuliah, emailku sengaja tak kututup dan tak kusangka-sangka Pak Darwis langsung membalasnya setelah sekitar 15 menit berlalu. Isinya, “Bapak telah membaca surat Nak Angga, dan tak lain yang dapat Nak Angga lakukan hanyalah berdoa, memohon kepada Tuhan untuk mengampuni segala dosa dan kesalahan. Ingatlah bahwa tak ada yang dapat mengampuni dan memberikan ketenangan jiwa selain Tuhan. Dan tak ada pula yang dapat menjadi perantara bagi seorang hamba dalam bermohon kepada Tuhan selain hamba itu sendiri dengan Tuhan. Wajar jika Nak Angga tak menemukan seorang manusia pun yang dapat menyelesaikan permasalahan Nak Angga karena manusia adalah makhluk terbatas, maka mintalah pada Tuhan yang Maha Pencipta dan Maha Memiliki. Bertobatlah kepada Tuhan dan kembali ke ajaran agama. Tahukah Nak Angga bahwa Tuhan sebenarnya telah membalas surat-surat permohonan seluruh hambanya sebelum hambanya meminta? Tuhan sebenarnya telah mengirimkan suratnya kepada seluruh umat manusia sebagai pedoman hidup melalui rasul-Nya, surat itu adalah Kitab Suci. Maka, bukalah dan temukan jawaban-jawaban hidupmu, ingatlah jangan malu untuk berdoa dan bermohon pada Tuhan, Tuhan itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Aku terpana membaca balasan suratku itu, bukan karena kata-kata Pak Darwis, tetapi karena aku baru tersadarkan bahwa mengapakah selama ini aku melupakan Tuhan. Bagiku selama ini shalat jumat, mengaji adalah suatu kegiatan biasa yang tidak ada hubungannya dengan kehidupanku. Makanya selama ini aku selalu mencari penyelesaian permasalahanku pada makhluk yang terbatas, dan selalu merasa dahaga. Kuperhatikan lagi surat balasan Pak Darwis itu, dari kata-katanya kuyakin dia belum tahu bahwa aku beragama islam, maka agar lebih konkret, kubalas surat itu, “Saya islam.”

Lima menit kemudian suratku tadi dibalasnya, “Assalamu’alaikum. Nak Angga, Bacalah Al-Qur’an surah Al-Fatihah, baca juga terjemahannya dan bertobatlah kepada Allah.”

Langsung kucari terjamahan Al-Qur’an di lemari buku pade-ku. Al-Qur’an itu sudah berdebu, kubaca surah Al-Fatihah beserta terjemahannya dan aku menagis bahagia.



                                                                                                                Medan, September 2010     

Comments