Skip to main content

Cerita pada Hidangan-Hidangan " Vietnamese Spring Roll"

Sepiring makanan berbentuk seperti lumpia yang transparan terhidang di depan mataku. Tampak isian-isian lumpia tersebut: kol segar, udang rebus, daun bawang, dan kemangi. Di sebelah piring tersebut terhidang pula semangkuk kecil saus berwarna coklat dengan potongan cabai dan bawang putih. Demi mencium aroma saus tersebut, lidahku pun mulai beraksi ingin segera mencicipinya.

Itulah kisah pertama kali aku berkenalan dengan makanan khas Vietnam, Lumpia Vietnam atau Vietnamese Spring Roll. Makanan itu kuperoleh dari teman-teman Vietnam-ku semasa kuliah S2. Lalu, dengan lahap aku pun memakannya bersama dengan teman-teman Indonesia lainnya. Mereka memberikan kami (mahasiswa Indonesia) makanan khas mereka untuk membalas perlakuan kami yang suka memberi makanan hasil racikan kami, seperti kolak dan bakwan jagung. Namun, dari pertukaran kebudayaan makanan-makanan inilah kami menjadi sangat akrab satu sama lain. Bahkan, aku merasa sudah seperti saudara saja. Saling membantu mengangkat barang ketika pindahan kamar, saling merayakan ulang tahun masing-masing, dan bahkan saling tangis-tangisan saat akan pulang ke negara masing-masing.

Dari mereka, aku menjadi mengerti bahwa orang-orang Vietnam tidak suka makanan yang terlalu berminyak, makanan mereka memang banyak yang berjenis lalapan. Bagi mereka saja makanan Taiwan terlalu berminyak, padahal bagiku makanan Taiwan masih kurang minyak dibandingkan makanan di Kota Medan. Pantas saja tubuh orang-orang Vietnam ini langsing dan kulitnya bersih. Aku juga belajar bahwa Vietnam Utara dan Vietnam Selatan memiliki perbedaan dialek dan karakter. Kebetulan teman-temanku ini berasal dari Vietnam Selatan, mereka sangat ramah dan baik. Selain lumpia itu, makanan mereka yang kuketahui adalah roti isi (berasal dari kebudayaan Prancis yang pernah menjajah mereka) dan sejenis mie dari beras yang dimakan dengan saus ikan. 

Pada lain waktu, kami berkumpul untuk makan lumpia ini bersama lagi. Kali ini ada teman yang berasal dari Afrika Selatan juga turut bergabung. Kami berlomba melipat lumpia, namun pemenangnya pasti dari tuan rumah, Vietnam, mengingat kulit yang terbuat dari tapioka ini susah dilipat jika terlalu basah. Lumpia Vietnam ini tak hanya kurasakan bersama teman-teman Vietnam dan Afrika, tetapi juga di lab-ku bersama teman-teman Taiwan dan seniorku yang berasal dari Thailand. Seniorku itulah yang memperkenalkan lumpia ini. Kali ini, saus yang kami pergunakan berasal dari saus ikan Thailand. Sepertinya lumpia ini pengikat persahabatan antarnegara saja. 

Aku pun memutuskan untuk membeli kulit lumpia Vietnam ini  dan Saus Ikan Thailand di Taiwan untuk dibawa pulang ke Kota Medan. Lalu, isian yang kumasukkan adalah kol, bihun, dan bakso ayam. Walaupun sausnya masih keasinan, tetapi rasa segar kol dan gurihnya bakso  yang dibalut dengan keunikan rasa kulitnya membuat makanan ini menjadi salah satu makanan favoritku.


Kulit lumpia yang disebut sebagai rice paper ini terbuat dari tepung beras, tepung tapioka, garam dan air, bahasa Vietnam untuk kulit ini adalah bánh tráng atau bánh Ä‘a nem. Tepung tapioka yang ada didalamnya membuatnya bertekstur lembut dan lengket sehingga dapat dibentuk. Isian yang biasa digunakan pun merupakan bahan-bahan sayuran yang segar sehingga secara keseluruhan makanan ini benar-benar sehat. Untuk mengetahui cara menggulung kulit ini, bisa membuka situs: Viet World Kitchen.


Vietnamese Rice Paper (Pic.Source: Wikipedia)

Kesimpulannya, makanan juga dapat menjadi pengikat jaringan pertemanan, pertukaran budaya makan memang sungguh menyenangkan sekaligus akan membawa hasil yang sangat positif. Sebagai orang Indonesia yang ramah-tamah, sangat bagus sekali jika kita dapat terus memperkenalkan budaya kita dan juga terbuka dengan budaya positif dari luar. :) 





    

Comments