Skip to main content

Merasai

Bukan sekali ini saja kau merasai
bahkan berpuluh-puluh permata engkau dapatkan.
Terbuang sajak air mata, percuma.

Untuk sementara kau coba hilangkan,
karena dirimu punya privasi,
untuk sementara?

Kau telah coba merasai, katamu.
Namun, rasa apa yang kau rasakan?
Apakah hendak pula kau rasai,
rasa anyir dan menjijikkan sebagai air hitam selokan.
rasa lara dipanggang sebongkah bara api yang menghitam.
Nyatanya kau dapat hilangkan segala rasa untuk sementara.
Untuk sementara?

rasanya, rasamu, rasaku,
apakah hanya untuk sementara?


                                                                Medan, September 2011

Puisi ini ditulis karena perasaan kecewa dengan pemimpin di Indonesia.

Comments