Skip to main content

The Trip [Sebelum Pandemi Covid-19]: Jakarta: Lapangan Banteng, Art Street Galery Kota Tua, Pancoran China Town, Museum Tekstil, Monas, Museum Indonesia

September 2019 yang lalu sebelum adanya pandemi korona, aku berkesempatan mengunjungi ibukota Republik Indonesia untuk suatu urusan dan melakukan perjalanan sendiri. Seperti yang sudah sering terjadi, salah satu maskapai penerbangan yang kunaiki melakukan delay untuk penerbangan sehingga waktu banyak kuhabiskan di bandara, mengerjakan tugas dari kampus. Aku juga berkenalan dengan teman dari Bandung yang baru pulang dari mengunjungi pernikahan saudaranya di Medan. Akhirnya aku baru sampai di bandara malam hari pukul 22.00.

Awalnya aku ingin pergi ke hotel dengan bus, namun kondisi yang sudah terlalu larut membuatku untuk mengambil taksi yang ada di bandara yang mengatakan bahwa ongkosnya sesuai dengan aplikasi online. Dan, alhamdulillah supirnya juga berdarah Sumatera Utara jadi sepanjang perjalanan, aku tak segan-segan memanggil dengan sebutan 'bang' bukan 'mas' atau 'pak'....hahahaha. 

Hotel yang kupilih adalah Hotel Surya yang berada di bawah manajemen OYO, namun aku memesannya dari AGODA.COM karena harga yang terjangkau di situs tersebut: 100 K saja per malam dengan kualitas kamar yang sangat bagus. Ada AC dan air hangat, lemari, tempat tidur yang besar, meja dan kursi, juga televisi, sabun juga tersedia.

Perjalanan pertama adalah ke Kantor Departemen Agama yang nyatanya dekat dengan berbagai lokasi-lokasi penting di Jakarta. Aku berangkat dengan layanan ojek online (saat itu kupilih GOJEK), sungguh bersyukur saat itu sudah ada ojek online sehingga bisa berkelana tanpa takut tersasar. Di dalam komplek Kementrian Agama tersebut terdapat kantin yang menjual berbagai macam makanan, aku pun sarapan di kantin tersebut dengan harga yang terjangkau.

Selepas menyelesaikan urusan, aku mengadakan perjalanan ke Lapangan Banteng Jakarta yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki saja. Suasana saat itu masih sunyi, mungkin karena hari menunjukkan pagi menuju siang yang panas. Lapangan ini cukup luas, namun terik matahari menyebabkanku untuk segera mencari tempat paling nyaman untuk berteduh.

Monumen pembebasan Irian Barat yang terletak di tengah Lapangan Banteng dengan ketinggian 35 meter

Pada saat itu ada pembangunan bagian ini di taman yang aku juga tidak menyelidiki dari dekat apa yang sedang dikerjakan

Monumen pembebasan Irian Barat dari sisi lain Lapangan Banteng, di bagian bawahnya ada berbagai tulisan-tulisan sejarah

Sisi Lain Lapangan Banteng

Bagian Lapangan Banteng yang kuambil dari tempatku berteduh: sekarang cukup banyak pohon ini di Jakarta

Selanjutnya aku berjalan keluar dari Lapangan Banteng dan menemukan bahwa tempat berjalan kakinya sudah indah.

Penampakan trotoar di sekitar Lapangan Banteng

Foto Katedral yang diambil dari trotoar

Foto Mesjid Istiqlal yang diambil dari trotoar

aku berniat untuk mengunjungi Monas yang lokasinya hanya dalam hitungan jalan kaki saja dari Kementrian Agama, namun nyatanya Monas tutup pada hari Senin sehingga aku tak dapat masuk ke dalam kompleksnya. Syukurnya ada kursi taman di trotoar di sekitar pinggiran kompleks Monas sehingga aku dapat duduk menikmati es krim Walls yang dijajakan penjual es keliling. 

Tak lama berselang, seorang bapak tua menawarkan ojeknya kepadaku, aku pun mengiyakan karena melihat semangatnya mencari nafkah: Bapak tersebut tidak bisa menjadi pengemudi ojek online karena usianya. Aku minta diantarkan ke lokasi kuliner untuk makan siang, namun di perjalanan, bapak tersebut menyebutkan beberapa tempat menarik seperti Stasiun MRT yang baru dan Perpustakaan Nasional. Aku menjadi tertarik untuk mengunjungi Perpustakaan Nasional yang ternyata diklaim sebagai perpustakaan nasional tertinggi di dunia dengan 27 lantai. 

Pada bagian depan akan ada direktori tiap lantai dan aku tertarik mencoba beberapa lantai. Namun, karena ramainya pengujung, lift menjadi sangat penuh. Oh ya, di dalam perpustakaan juga ada mushala yang nyaman dan kantin juga. Namun, kantinnya saat itu sangat ramai sehingga tetap saja aku tak bisa makan di sana, sendirian. 

Penampakan bagian depan Perpustakaan Nasional Indonesia; pengunjugnya ramai dan saat itu ada seminar juga di dalamnya.

Pengunjung dapat menitipkan tas terlebih dahulu dan mendapatkan tas sandang ini


Bagitu masuk ke dalam perpustakaan, kita bisa mengunjungi museum aksara yang dangat bagus dan terdapat karya seni/desain yang bisa dinikmati

Salah satu karya seni yang dipajang di Perpustakaan Nasional.

Keesokan harinya aku mengunjungi Kota Tua Jakarta. Kota ini memilik nama lain Batavia Lama (Old Batavia), Daerah ini memiliki gedung-gedung dengan desain Belanda yang sekarang kuperhatikan telah diubah beberapa menjadi museum, namun dikarenakan aku sedang malas mengunjungi museum sehingga hanya berkeliling sejenak saja. Ada banyak pengunjung yang bersepeda di daerah yg indah ini, juga anak-anak sekolah. 

Pemandangan di Kota Tua Jakarta (1)

Pemandangan di Kota Tua Jakarta (2)

Pemandangan di Kota Tua Jakarta (3)

Pemandangan di Kota Tua Jakarta (4) di daerah ini ada banyak seniman yang akan menjadi patung dan karena aku datang masih pagi, maka mereka masih bersiap-siap berdandan.

Selain berjalan-jalan di sekitar Kota Tua, aku berjalan ke arah ruko-ruko yang sebenarnya aku kurang tahu itu apa, hanya saja ketika dalam perjalanan menuju Kota Tua, aku melihat ruko-ruko itu sepertinya menarik dengan berbagai gambar di dindingnya. Lalu lintas sangat padat, sebagai orang yang tidak begitu mahir dalam hal menyebrang jalan, aku mengikuti serombongan anak sekolah yang menyebrang, ahahahah. Namun, memang kuperhatikan di Jakarta ini, setiap kita menyebrang maka mobil akan mengalah dengan sopan ahahahah, sama sekali berbeda dengan di Kota Medan (pada umumnya). Hal ini pun diakui oleh supir taksi bandara yang kemaren.

Ada Banyak karya seni lukis di lorong ruko ini, selain itu juga ada banyak penjual/seniman di pinggir ruko, tempat apa ini ya? aku penasaran sekali

Sampai di bagian atap juga berseni, hmmm

Sangat Indah bagiku, aku menyukai tempat seperti ini meski aku tidak mengerti makna di balik lukisannya, ahahahah

Dinding ini juga dilukis, yang aku kenal hanya lukisan Soekarno saja

Sesampainya di ujung lorong berlukisan aku mendapati ini, ternyata ini adalah Kota Tua Street Gallery, sungguh menarik.

Sesampainya di ujung jalan, aku  mengikuti arah hati untuk melihat hal menarik lainnya, lalu aku pun sampai di sebuah jalan yang di pinggir kanan kiri banyak menjual obat-obatan dan lain-lain seperti pasar, tujuanku selanjutnya adalah Museum Tekstil, jadi aku ingin mencari tempat berteduh untuk memesan ojek online. 

Satu hal yang kuamati selama perjalanan adalah di Jakarta (tempat-tempat yang kujalani) ini sangat banyak orang mencari nafkah, terutama berjualan, apapun itu. Ada seorang bapak menjual air nira di dalam bambu dengan berjalan berkeliling (beneran digotong bambunya), lalu seorang nenek berjualan kue kering tradisional di pinggiran trotoar besama pedagang lain yang relatif lebih muda usianya. Hal ini tidak kutemui di Medan, yah mungkin karena di Medan bukan destinasi wisata seperti di Jakarta (atau mungkin aku yang kurang jalan-jalan, ahahaha). Namun di beberapa destinasi wisata yang pernah kudatangi pun aku tak menemui penjual di jalan yang sedemikian banyaknya seperti di Jakarta. Memang benar, banyak orang mengadu nasib di Jakarta.

Pemisah jalan adalah parit besar yang diperindah sehingga kita lupa bahwa itu adalah parit ahahahah, pohon berbunga kuning itu sangat menawan

Sepanjang jalan banyak toko obat cina, aku jadi penasaran apa nama tempat ini

Ohhh, aku baru melihat ini, ada petugas khusus membersihkan parit disini

Sampai di sini barulah aku tahu nama tempat ini: Pancoran China Town

Ternyata tempat yang kudatangi secara tidak sengaja tersebut juga adalah salah satu destinasi wisata (sayangnya aku tak mengeksplor lebih jauh), namanya adalah Pancoran China Town. Tempat ini merupakan pusat grosir dan eceran untuk barang-barang lokal dan impor, seperti obat Tiongkok, jamu, barang-barang elektronik, baju, aneka makanan, dan lainnya. Tempat ini resmi dibuka pada 25 September 2018 (Sumber: klik disini untuk mengetahui lebih lanjut tentang tempat ini).

Jadi, meski niatku hanya berjalan-jalan di sekitar Kota Tua, ternyata aku secara tidak sadar telah menjelajah destinasi wisata yang lainnya, sungguh menarik. Lalu, di depan toko penjual barang-barang tradisional Cina aku pun memesan ojek online menuju Museum Tekstil.

Museum Tekstil Indonesia (informasi lebih dalam bisa klik disini); harga tiket saat itu 5000 rupiah

Bagian pintu depan museum, saat aku datang, sangat sepi, padahal museumnya sangat bagus 

Saat aku datang, ternyata museum ini baru mengadakan Exhibition untuk Tenun Ikat (kalau dalam bahasa sehari-hari yang aku tahu adalah Kain Songket) baca lebih lanjut tentang tenun ikat disini.

Ada berbagai macam tenun ikat dari Indonesia dan juga dari mancanegara, namun tenun ikat yang dipajang disini tidak boleh disentuh

Pada Galeri Batik terdapat pajangan berbagai jenis batik dari Indonesia

Bagian depan Galeri Batik

Menuju tempat belajar membuat batik

Dengan membayar 40 ribu, kita bisa belajar membuat batik, polanya sudah ada diberikan, kita tinggal pilih saja.

Ketika aku belajar membatik, aku bertemu dengan seorang ibu dan anaknya yang juga belajar membatik (ibunya sangat ramah), jadi ibu itu bercerita bahwa anaknya ini adalah seorang guru di Australia dan sebagai seorang guru, dia sering memperkenalkan budaya Indonesia kepada murid-murid Australia, dia bercerita bahwa pernah mengajari murid-murid Australia menggunakan Angklung dan sekarang dia ingin mengajari mereka membatik, makanya dia sepertinya akan mengambil kelas membatik di tempat tersebut. 

Ternyata membatik susah lho, ahahahahah, lilinku bolak-balik tumpah ke kain, jadi banyak sekali motif yang tidak kuinginkan. Step-step membatiknya aku sudah lupa secara detail, yang kuingat digambar dahulu lalu dengan canting, kita melapisi pola gambar dengan lilin, lalu diberi pewarna, direbus, dikeringkan. Di saat aku menunggu batikku dikeringkan, aku makan di kedai di museum tersebut, kedainya saat itu menjual soto, penjualnya ramah sekali bagi aku yang seorang Medan, ahahahaha. Karena logat bahasa Indonesia di Jakarta berbeda dengan di Medan, aku merasa logat mereka menarik sekali, seperti menonton sinetron di tipi, ahahahaha.

Destinasi Selanjutnya adalah Monumen Nasional alias Monas (ingat ya Monas ga dibuka di Hari Senin):

Pemandangan di sekitar Monas

Trotoar di sekitar Monas

Ketika aku datang, di Monas banyak sekali tanaman dengan bunga yang indah, nama tanaman tersebut dituliskan pada penanda

Monumen Nasional (Monas)

Jalan masuk menuju ke dalam Monas, kita sebelumnya harus membeli tiket dalam bentuk kartu dari bank (aku lupa bank apa) yang juga dapat digunakan untuk hal-hal lain

Salah satu diorama di dalam Monas (ini tentang Pangeran Sudirman)

Sepertinya saat itu datang di saat yang cukup tepat (meski tidak bisa naik ke puncak Monas), aku dapat melihat pertunjukan pembacaan Teks Proklamasi

Saat aku keluar dari kompleks Monas dan menunggu ojek online, aku melihat ada Taman Pandang Istana yang dirancang oleh Yasser Rizky dan diresmikan oleh Gubernur DKI periode sebelumnya Basuki Tjahaja Purnama

Keesokan harinya, sebelum aku berangkat ke bandara, aku menyempatkan datang ke Museum Nasional Indonesia. Dikutip dari website Museum Nasional Indonesia, museum ini mempunyai 2 Gedung dan menyimpan 160.000-an benda-benda bernilai sejarah yang terdiri dari 7 jenis koleksi Prasejarah, Arkeologi masa Klasik atau Hindu – Budha; Numismatik dan Heraldik; Keramik; Etnografi, Geografi dan Sejarah. Gedung A digunakan untuk ruang pamer serta penyimpanan koleksi. Sedangkan Gedung B, dikenal pula dengan sebutan Gedung Arca, yang dibuka secara resmi pada tanggal 20 Juni 2007 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono selain digunakan untuk pameran juga digunakan untuk kantor, ruang konferensi, laboratorium dan perpustakaan. Nah, aku menjelajah kedua gedung tersebut.

Pada saat aku datang, ada banyak pengunjung dari mancanegara yang dibawa berkeliling oleh Tour Guide dan juga anak sekolah. di salah satu gedung (aku lupa yang mana) yang memiliki eskalator, eskalatornya itu pakai sensor, jadi eskalator hanya bergerak klu kita mendekati eskalator tersebut.

Salah satu gedung Museum Indonesia

Gedung ini terdapat banyak arca

kemana mata memandang, maka akan mendapati arca

lorong gedung yang dipenuhi arca

Selain arca, sebenarnya juga ada peta Indonesia dan gambar orang yang menandai ciri fisik orang dari berbagai suku di Indonesia

Aku terkejut membaca tentang Tabuik ini, ini adalah hal yang baru kuketahui(klik disini untuk membaca lebih lanjut)

Inilai Tabuik yang dimaksud tulisan pada gambar di atas

Di dalam museum banyak benda-benda yang dipakai orang zaman dahulu dan aku merasa sandal di atas cukup menantang jika dipakai


Sebelum pulang ke Medan, Kak Sara dengan baiknya datang jauh-jauh ke hotelku dan memberikan minuman dingin. Setelah bercengkarama dan berfoto, aku pun dijemput oleh supir taksi bandara yang dulu juga mengantarkan aku dari Bandara ke Hotel.

Bersama Kak Sara













Comments

Post a Comment